PAPUA — Gunung Fuji, destinasi pendakian paling ikonik di Jepang, kembali mengingatkan para pendaki akan bahaya ketinggian. Insiden terbaru menimpa seorang wisatawan asal Indonesia yang kehilangan nyawa di jalur populer Yoshida, Prefektur Yamanashi. Peristiwa ini menjadi alarm penting bagi siapa pun yang berencana menaklukkan puncak setinggi 3.776 meter tersebut.
Pendaki laki-laki asal Indonesia itu memulai pendakian dari Pos 5 Fuji-Yoshida pada Sabtu (29/8) pukul 11.00 waktu setempat. Ia bergabung dalam tur rombongan yang dipimpin pemandu profesional.
Setelah sesi makan siang, korban tidak muncul di titik pertemuan yang disepakati. Tur tetap berjalan, sementara keberadaannya tak diketahui hingga sore hari.
Baru sekitar pukul 17.00, beberapa pendaki lain menemukan korban tergeletak telungkup di dekat Pos 7. Proses evakuasi berlangsung cepat: ia dibawa turun ke Pos 5, lalu dirujuk ke rumah sakit Kota Fujikawaguchiko. Namun nyawanya tak tertolong.
Kepolisian Fuji-Yoshida di Prefektur Yamanashi menduga pria tersebut meninggal akibat masalah kesehatan yang berkaitan dengan jantung. Detail insiden diungkap ke publik pada Minggu (30/8), seperti dilansir NHK.
Gangguan jantung memang menjadi salah satu risiko utama pendakian gunung tinggi. Perubahan tekanan udara, kelelahan ekstrem, dan dehidrasi bisa memicu kondisi kardiovaskular, terutama jika pendaki tidak melakukan persiapan fisik yang matang. Pada ketinggian di atas 2.500 meter, tubuh bekerja lebih keras memompa oksigen, sehingga denyut jantung meningkat signifikan.
Bagi traveler yang mendaki Gunung Fuji, langkah-langkah berikut penting diperhatikan:
Dengan persiapan yang benar, Gunung Fuji tetap menjadi pengalaman mendaki yang aman dan berkesan. Namun insiden ini menegaskan bahwa kondisi tubuh adalah penentu utama. Jika tidak prima, menunda pendakian adalah keputusan paling bijak.