KAI Resmi Bangun Trem Listrik 12 Km di Bali, Bandara-Canggu Beroperasi 2029

Penulis: Toni Haryadi  •  Selasa, 01 September 2026 | 20:38:01 WIB
Penandatanganan kerja sama pengembangan trem listrik dilakukan di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026).

PAPUA — Keputusan membangun trem, bukan MRT atau LRT, diambil setelah KAI mempertimbangkan karakteristik dan kondisi geografis Pulau Dewata yang unik. Moda ini dinilai jauh lebih adaptif karena berukuran mungil, hanya sekitar 2 meter lebih untuk dimensi trem dengan lebar trase sekitar 3 meter — bahkan lebih kecil dibandingkan bus.

"Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali," tegas Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (1/9/2026).

Penandatanganan kerja sama pengembangan perkeretaapian ini dilaksanakan di Gedung Kertasabha, Denpasar. Rencananya, trem listrik akan melintasi rute dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju Canggu dengan desain dua jalur lengkap dengan area persilangan untuk mendukung kelancaran operasional.

Mengapa Trem Listrik Jadi Pilihan KAI?

Konsep trem dipilih karena mengusung teknologi baterai yang ramah lingkungan dan bebas kabel listrik di sepanjang jalur. Tingkat kebisingannya pun rendah, sehingga tidak akan mengganggu kenyamanan wisatawan maupun aktivitas warga sekitar. Desain moda ini juga dirancang terintegrasi dengan sistem transportasi lain dan menyesuaikan kearifan lokal Bali.

Gubernur Bali, Wayan Koster, menyebut kerja sama ini merupakan tindak lanjut usulan Kementerian Bappenas dan Pemprov Bali untuk membenahi fasilitas serta sistem transportasi, khususnya di Kabupaten Badung yang kerap menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas.

"Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata, dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat," tegasnya.

Dampaknya bagi Wisatawan dan Warga Sekitar

Pembangunan jalur trem yang membentang 12 kilometer ini akan melewati kawasan padat hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, hingga permukiman warga. Pemprov Bali menegaskan bahwa jalur transportasi harus dirancang dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu ekosistem pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Koster menekankan bahwa kenyamanan wisatawan tetap menjadi prioritas utama. Alih-alih menjadi gangguan, kehadiran trem justru diharapkan mampu menjadi daya tarik baru bagi sektor pariwisata Bali.

"Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali," kata Koster.

Proyek ini menjadi angin segar bagi warga Badung dan wisatawan yang selama ini kerap terjebak kemacetan di jalur menuju kawasan pantai Canggu. Dengan kapasitas yang mumpuni dan konsep bebas emisi, trem ini diharapkan menjadi moda transportasi modern yang selaras dengan visi Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top