Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat nilai ekspor Papua pada Juli 2026 hanya mencapai 3.817,42 ribu dolar AS, merosot 45,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 7.042,63 ribu dolar AS. Australia tetap menjadi pasar utama dengan menyerap 68,39 persen dari total nilai ekspor.
JAYAPURA — Penurunan tajam itu terjadi meskipun komoditas kayu dan barang dari kayu (HS44) masih mendominasi struktur ekspor. Kontribusinya mencapai 3.359,13 ribu dolar AS atau sekitar 88 persen dari total nilai ekspor pada periode tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Provinsi Papua, Akhmad Jaelani, menyampaikan bahwa ekspor nonmigas mendominasi hampir seluruh nilai ekspor dengan kontribusi 99,87 persen.
Australia menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor mencapai 2.610,88 ribu dolar AS. Posisi kedua ditempati Papua Nugini dengan nilai 458,23 ribu dolar AS atau 12 persen, disusul Selandia Baru senilai 392,71 ribu dolar AS atau 10,29 persen.
"Total ekspor ke tiga negara ini mendominasi sebagian besar pasar luar negeri produk Papua," ujar Akhmad di Jayapura, Selasa lalu.
Berdasarkan catatan BPS, komoditas migas hanya berkontribusi 0,13 persen atau senilai 4,91 ribu dolar AS pada Juli 2026. Sementara komoditas nonmigas lainnya di luar golongan kayu tercatat membukukan nilai 453,38 ribu dolar AS.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026, Papua telah membukukan total ekspor sebesar 35.796,33 ribu dolar AS. Angka ini merefleksikan kinerja perdagangan luar negeri daerah yang masih bertumpu pada satu golongan komoditas utama.
Fluktuasi nilai ekspor antar bulan terbilang wajar terjadi, namun penurunan hampir separuh nilai pada satu bulan terakhir patut menjadi perhatian para pemangku kebijakan di sektor perdagangan dan industri daerah.