PAPUA — Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, menyatakan status Gunung Anak Krakatau tetap berada di Level III atau Siaga. Kendati erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB telah mereda, masyarakat dan pemangku kepentingan diminta tetap waspada terhadap potensi bahaya lanjutan.
Erupsi kali ini menyemburkan lava pijar atau lava fountain yang terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Api di Pasauran, Banten. Dentuman keras terdengar hingga ke pos pengamatan, dan lontaran material sempat mengganggu perangkat CCTV di sekitar kawah.
Anak Krakatau bukan gunung api biasa. Ia adalah gunung termuda di kawasan Selat Sunda yang baru muncul ke permukaan pada 1929, hasil akumulasi material vulkanik dari erupsi bawah laut di kaldera bekas letusan dahsyat Gunung Krakatau 1883.
Sejak lahir, gunung ini menunjukkan aktivitas magmatik yang konsisten meski intensitasnya berubah-ubah. Badan Geologi mengkategorikannya sebagai gunung aktif tipe A yang terus bertumbuh, menjadikannya laboratorium alam bagi para vulkanolog.
Sejarah mencatat bahaya terbesar Anak Krakatau tidak selalu berasal dari kolom abu atau lontaran batu. Pada 22 Desember 2018, longsoran material vulkanik dalam jumlah masif ke laut memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting. BMKG menegaskan bahwa longsoran material gunung api ke laut merupakan bahaya sekunder yang wajib dipantau karena berpotensi memicu tsunami non-tektonik.
Pemantauan kini tidak hanya berfokus pada tinggi kolom abu. Para pakar mengamati perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, hingga kondisi laut di sekitarnya untuk mendeteksi potensi longsoran lebih dini.
Fenomena erupsi kali ini sebenarnya telah terdeteksi berbulan-bulan sebelumnya. Badan Geologi mencatat emisi gas SO2 dan anomali panas dari satelit mulai terlihat pada Juni 2026.
Aktivitas kegempaan dan asap kawah kemudian meningkat signifikan. Puncaknya, status gunung dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 2 Juli 2026, dua bulan sebelum erupsi besar terjadi.
Proses ini menggambarkan siklus alami gunung api sebagai sistem dinamis. Magma dari dalam bumi naik melalui rekahan, menjadi lava saat mencapai permukaan, lalu menumpuk membentuk tubuh gunung. Namun proses konstruksi itu bisa berbalik menjadi destruktif seperti yang terjadi pada 2018 lalu.
Erupsi tidak otomatis berarti tsunami. BMKG memastikan tidak ada perubahan muka air laut yang mengindikasikan tsunami pasca-erupsi 4-5 September 2026. Potensi tsunami hanya muncul jika terjadi mekanisme longsoran material dalam jumlah signifikan ke laut.
Kepala PVMBG mengingatkan bahwa potensi letusan susulan masih tergolong tinggi. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung direkomendasikan untuk terus mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi dan BMKG, serta tidak mendekati area kawah dalam radius yang telah ditetapkan.
Setiap erupsi Anak Krakatau adalah babak baru dalam proses pertumbuhan gunung ini. Data dari setiap aktivitas menjadi kunci bagi para ilmuwan untuk memahami pola perkembangan dan memetakan potensi bahaya di masa depan.