JAYAPURA — Stabilitas keamanan di Kabupaten Keerom, Papua, dinilai terjaga berkat kolaborasi erat antara aparat keamanan, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat. Penilaian ini disampaikan Kepala Suku sekaligus Tokoh Masyarakat Kampung Baburia, Dius Tabuni, di sela kegiatannya baru-baru ini.
Menurut Dius, sinergi yang responsif antara Pemerintah, Polri, hingga para Kepala Suku terbukti efektif meredam potensi konflik di lapangan. Keberanian dan kecepatan seluruh elemen dalam merespons persoalan menjadi kunci utama terjaganya kedamaian di daerah yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini tersebut.
Dius menegaskan, para tokoh adat dan masyarakat Keerom bersikap tegas menolak segala bentuk adu domba. Ia ingin warga lebih diarahkan pada kegiatan produktif, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan.
"Kegiatan seperti pembukaan lahan, penanaman jagung, serta pengembangan tanaman pangan, ini bisa menjadi sarana pemberdayaan masyarakat sekaligus menjaga aktivitas warga tetap positif dan konstruktif," kata dia dalam keterangan yang diterima di Jayapura.
Dius juga menyoroti keberagaman masyarakat Keerom yang berasal dari berbagai wilayah dan kelompok suku, termasuk masyarakat pegunungan maupun Tabi. Menurutnya, kondisi ini merupakan bagian dari kekuatan daerah yang harus dijaga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat Bhinneka Tunggal Ika disebutnya menjadi perekat bagi seluruh warga yang bermukim di Keerom. Ia berharap pembangunan di kabupaten tersebut dapat terus ditingkatkan dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh demi kesejahteraan masyarakat.
Dius meminta seluruh pihak, termasuk aparat keamanan, turut mendukung terciptanya pembangunan yang mampu membawa perubahan positif bagi Keerom. Komitmen menjaga persatuan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan daerah di wilayah perbatasan.