PAPUA — Pegiat mitigasi bencana Daryono membantah keras tudingan yang menghubungkan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia dengan campur tangan teknologi. Dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/9), ia menyebut narasi tersebut tidak masuk akal secara ilmu kebumian.
"Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian," ujarnya.
Daryono menjelaskan, energi penggerak aktivitas vulkanik bersumber dari dinamika mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer. Proses erupsi diawali ketika magma bergerak naik karena densitasnya lebih rendah dari batuan sekitarnya, disertai akumulasi tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.
Tekanan di kantong magma bisa mencapai ratusan megapascal. "Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius," tegasnya.
Ia menambahkan, lapisan batuan padat di kerak Bumi meredam gelombang elektromagnetik. Dengan begitu, tidak ada sinyal buatan manusia yang memiliki mekanisme fisik untuk menggerakkan magma di kedalaman tersebut.
Aktivitas vulkanik yang intens di Indonesia merupakan konsekuensi geografis. Indonesia berada di jalur Cincin Api atau Ring of Fire, titik pertemuan lempeng tektonik utama seperti Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.
Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lainnya membawa material, termasuk air dan sedimen, ke kedalaman Bumi. Proses ini memicu pelelehan batuan di mantel dan memasok magma dalam rentang waktu panjang.
Daryono juga menjelaskan fenomena beberapa gunung api yang meningkat aktivitasnya dalam waktu berdekatan. Hal ini bisa terjadi saat sistem magmanya berada dalam kondisi kritis, misalnya dipicu aktivitas tektonik regional atau penyesuaian tegangan kerak Bumi setelah gempa besar. Namun, ia menegaskan ini tetap proses alamiah, bukan rekayasa.
Daryono memastikan erupsi tidak pernah terjadi mendadak. Sebelum letusan, aktivitas magma terpantau melalui sejumlah parameter geofisika.
"Erupsi tidak pernah terjadi secara mendadak melalui tombol kendali otomatis, melainkan diawali oleh rekaman seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik," tuturnya.
Instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter merekam deformasi tubuh gunung api akibat tekanan bawah permukaan. Pemantauan juga mencakup perubahan komposisi gas dan peningkatan suhu. Proses akumulasi massa dan energi ini bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sebelum puncak aktivitas terjadi.
Daryono menilai narasi yang mengaitkan erupsi dengan teknologi buatan manusia adalah bentuk disinformasi yang mengabaikan proses dasar geologi. Aktivitas vulkanik Indonesia, katanya, adalah konsekuensi dari dinamika geologi Bumi yang terus berlangsung.