Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Jayapura membina lima pelaku UMKM di wilayah kerjanya yang dinilai berpeluang menembus pasar ekspor. Pembinaan dilakukan lewat pendataan, pemetaan potensi, sosialisasi regulasi, peninjauan lapangan, hingga asistensi kepada pelaku usaha. Dari sekitar 22 UMKM yang didata, hanya lima yang lolos verifikasi.
JAYAPURA — Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan Cukai dan Dukungan Teknis Kantor Bea Cukai Jayapura Hengky Maury mengatakan pembinaan menyasar pelaku usaha yang produknya sudah punya potensi dikirim ke luar negeri. Pendampingan mencakup pemeriksaan produk, proses produksi, serta kelengkapan perizinan.
Pelaku UMKM juga diberi pemahaman soal persyaratan menjadi eksportir, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), prosedur ekspor, hingga pengurusan dokumen melalui aplikasi kepabeanan.
Dari sekitar 22 UMKM yang didata, hanya lima yang dinyatakan lolos setelah verifikasi. Produk mereka beragam, dari olahan kayu, ikan tuna, kopi, hingga makanan dan minuman.
"Sebelumnya terdapat sekitar 22 UMKM yang didata, namun setelah dilakukan verifikasi yang lolos hanya lima UMKM. Seperti olahan kayu yang dikirim ke China, kemudian ikan tuna diekspor ke Amerika Serikat, serta produk kopi, makanan dan minuman yang dipasarkan ke Papua Nugini (PNG)," ujar Hengky di Jayapura, Kamis.
Hengky menilai PNG menjadi salah satu pasar paling potensial bagi UMKM Papua karena letaknya berdekatan. Pengiriman barang bisa dilakukan melalui jalur darat di Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
"Saat ini kami sedang gencar-gencar agar produk olahan ke wilayah Papua Nugini menjadi salah satu pasar yang potensial bagi UMKM Papua karena letaknya berdekatan dan akses pengiriman dapat dilakukan melalui jalur darat," katanya lagi.
Bea Cukai Jayapura meyakini bertambahnya UMKM yang mampu menjadi eksportir akan mendorong peningkatan produksi. Dampak lanjutannya, terbukanya lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
"Karena itu, diperlukan sinergi pemerintah dan instansi terkait untuk meningkatkan produksi sekaligus mencari solusi biaya logistik agar produk UMKM Papua semakin kompetitif di pasar internasional," ujarnya lagi.
Hengky menyebut pembinaan dilakukan melalui pendataan, pemetaan potensi, sosialisasi regulasi, peninjauan lapangan, hingga asistensi. "Kami melihat potensi-potensi yang ada di wilayah kerja kami, kemudian kami kembangkan melalui sosialisasi dan pendampingan, khususnya mengenai regulasi di bidang ekspor," katanya.