Anak Ketergantungan AI: Risiko dan Cara Mendampingi Sesuai Usia

Penulis: Toni Haryadi  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:37:01 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria mengingatkan risiko ketergantungan AI pada anak dalam siaran pers, Sabtu (17/10/2026).

PAPUA — Sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh di tengah ekosistem digital yang makin kompleks, termasuk kehadiran AI di rumah dan sekolah. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan risiko ketergantungan AI pada anak, mulai dari hilangnya kemandirian hingga kemampuan berpikir kritis yang tumpul. Panduan berikut merangkum risikonya dan langkah pendampingan yang bisa ibu mulai hari ini.

Nezar Patria menyampaikan peringatan itu dalam siaran pers pada Sabtu (17/10/2026). Menurutnya, penggunaan AI tanpa pendampingan membuat anak kehilangan kepribadian dan kemampuan berpikir kritis.

"Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan," ujar Nezar.

Apa yang Membuat AI Berisiko bagi Anak

AI bekerja dengan memberi jawaban cepat atas hampir semua pertanyaan. Bagi anak, kemudahan itu bisa memangkas proses mencoba, salah, lalu memperbaiki diri — padahal justru di situ kemampuan berpikir terbentuk.

Nezar menyebut ketergantungan sebagai risiko utama. Anak yang terbiasa menerima jawaban instan cenderung berhenti bertanya "kenapa" dan "bagaimana caranya".

Risiko lain datang dari ruang digital secara umum: interaksi dengan orang asing, paparan konten tidak sesuai usia, ancaman terhadap data pribadi, hingga kecanduan digital.

Kenapa 70 Juta Anak Perlu Perhatian Khusus

Angka 70 juta anak Indonesia yang tumbuh bersama AI bukan statistik kecil. Artinya, hampir seluruh generasi mendatang akan berinteraksi dengan teknologi ini sejak dini, di rumah maupun di sekolah.

Karena itu, Nezar menilai pendampingan orang tua tidak bisa ditunda. Teknologi perlu dimanfaatkan secara aman, sehat, dan bertanggung jawab — bukan dibiarkan bekerja sendiri.

Peran Orang Tua: Komunikasi Sebelum Larangan

Pendampingan paling efektif dimulai dari komunikasi terbuka. Tanyakan apa yang anak lakukan dengan AI, aplikasi apa yang dipakai, dan untuk keperluan apa.

Setelah memahami aktivitas digital anak, ibu bisa memanfaatkan fitur keamanan yang tersedia di perangkat dan platform. Nezar menekankan perlindungan anak butuh kolaborasi pemerintah, platform digital, dan orang tua.

Pemerintah sendiri sudah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau PP Tunas. Regulasi ini jadi landasan membangun ruang digital yang lebih aman bagi anak.

"Kita punya tanggung jawab yang cukup besar bagaimana menjamin ruang yang aman dan sehat buat anak-anak kita itu. Itu sebabnya pemerintah membuat PP Tunas dalam rangka membangun ruang aman dan sehat bagi anak di dalam ekosistem digital. Melindungi anak kita adalah melindungi peradaban," tegas Nezar.

Fitur Parental Control di WhatsApp

WhatsApp memperkenalkan fitur Parental Control untuk membantu orang tua mendampingi aktivitas digital anak remaja. Fitur ini memungkinkan orang tua melihat informasi tentang grup dan kanal yang terhubung dengan akun anak.

Orang tua juga bisa mengatur pilihan terkait konten yang dapat dilihat dan dibagikan, serta menerima notifikasi atas perubahan tertentu pada akun anak.

Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp, Victoria Grant, menjelaskan fitur ini dirancang mendukung keselamatan anak tanpa mengharuskan orang tua membaca percakapan pribadi mereka.

"Dengan begitu, tidak ada pengaturan yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan anak Anda. Anda dapat membuka dan mengatur fitur-fitur tersebut bersama-sama," kata Grant.

Pendekatan ini menjaga kepercayaan dalam keluarga. Anak merasa dihargai, sementara orang tua tetap punya kendali atas keamanan akun.

Belajar Lewat Kelas Pengasuhan Digital

Orang tua bisa mempelajari fitur Parental Control lewat Kelas Pengasuhan Digital. Program ini menyediakan buku saku, video, dan permainan edukatif yang bisa dipakai bersama anak.

Setelah Jakarta, pelatihan direncanakan berlanjut ke Padang dan Cirebon. Program ini hasil kolaborasi WhatsApp dengan Kementerian Komunikasi dan Digital, ICT Watch, serta Keluarga Kita.

Nezar berharap kolaborasi ini membantu orang tua mengajarkan perlindungan data pribadi, etika berkomunikasi, serta penggunaan AI secara bijak dan kreatif.

Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog Anak

Waspadai jika anak mulai menarik diri dari interaksi sosial, marah saat akses gawai dibatasi, atau kesulitan menyelesaikan tugas sekolah tanpa bantuan AI. Tanda-tanda ini layak didiskusikan dengan psikolog anak atau guru BK di sekolah.

Untuk anak usia dini, batasi durasi layar dan dampingi setiap kali menggunakan perangkat. Untuk remaja, sepakati aturan bersama ketimbang melarang sepihak.

Anak yang tumbuh dengan pendampingan aktif punya peluang lebih besar menjadi generasi cerdas, kreatif, inovatif, dan tangguh — tanpa mengorbankan keselamatan di dunia digital.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top