JAYAPURA — Laporan polisi bernomor [nomor laporan] tercatat di Polresta Jayapura Kota setelah Mama Sinta, seorang warga asli Papua, merasa dirugikan secara moral. Ia mengaku tidak pernah memberikan izin pencantuman gambar dirinya dalam film dokumenter yang mengangkat tradisi potong babi di kampungnya.
Mengapa Wajah Mama Sinta Dicantumkan Tanpa Izin?
Menurut penuturan Mama Sinta, proses syuting film berjudul "Pesta Babi" dilakukan beberapa bulan lalu di Distrik [nama distrik]. Saat itu, kru film meminta izin lisan untuk merekam suasana umum, bukan secara spesifik untuk mengambil gambar dirinya secara close-up.
"Saya kira mereka merekam acara saja, bukan wajah saya. Saya tidak pernah tanda tangan surat izin apa pun," ujar Mama Sinta saat ditemui di kediamannya, kemarin.
Dampak Psikologis dan Sosial yang Dirasakan
Setelah film tersebut tayang di sebuah platform digital, Mama Sinta mengaku mendapatkan banyak pertanyaan dari tetangga dan kerabat. Ia merasa malu karena gambarnya muncul tanpa sepengetahuannya, terutama dalam konteks tradisi yang dianggap sakral.
Pelaporan ini juga disertai dengan permintaan agar film tersebut ditarik dari peredaran sementara waktu. Kuasa hukum Mama Sinta, [nama kuasa hukum], menyebutkan bahwa tindakan kru film melanggar Undang-Undang ITE dan aturan perlindungan data pribadi.
Apa Langkah Polresta Jayapura Kota Selanjutnya?
Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan awal. Kasat Reskrim Polresta Jayapura Kota, [nama Kasat Reskrim], membenarkan telah menerima laporan tersebut. "Kami masih mengumpulkan alat bukti dan memeriksa saksi-saksi. Yang jelas, laporan ini sudah kami terima dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku," ujarnya singkat.
Etika Produksi Film di Daerah Adat: Pelajaran dari Kasus Ini
Kasus Mama Sinta menjadi pengingat bagi para sineas dan kreator konten. Di Papua, izin adat dan persetujuan individu (informed consent) adalah hal krusial yang sering terlewatkan. Banyak warga yang belum melek hukum, sehingga rentan dieksploitasi secara visual.
Sejumlah pegiat budaya di Jayapura mendesak agar setiap produksi film yang melibatkan masyarakat adat wajib memiliki perjanjian tertulis yang jelas. Hal ini untuk menghindari sengketa serupa di kemudian hari.
Mama Sinta Minta Maaf atau Minta Keadilan?
Mama Sinta menegaskan bahwa tujuannya melapor bukan untuk mencari popularitas atau ganti rugi materi. Ia hanya ingin ada efek jera agar kejadian serupa tidak menimpa warga lain. "Saya minta film itu tidak boleh tayang lagi dengan wajah saya. Kalau mau tayang, hapus dulu gambar saya," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim produksi film "Pesta Babi" belum memberikan pernyataan resmi. Rencananya, pihak Mama Sinta akan melayangkan somasi terbuka dalam waktu dekat jika tidak ada itikad baik dari sang pembuat film.