BIAK — Selama tujuh hari ke depan, masyarakat dan wisatawan yang datang ke Biak Numfor akan disuguhi atraksi budaya yang tidak ditemukan di daerah lain. Salah satu yang paling dinantikan adalah Apen Beyeren, ritual berjalan dan menari di atas batu yang telah dibakar hingga membara. Tradisi ini menjadi simbol ketangguhan dan kekuatan spiritual masyarakat adat setempat.
Tidak hanya itu, ada Snap Mor, tradisi menangkap ikan bersama-sama di pesisir saat air laut surut (meti). Kegiatan ini mencerminkan semangat gotong royong yang masih dirawat oleh komunitas adat di wilayah Saereri.
Perahu Tradisional hingga Lomba Foto Bawah Laut
Sepanjang festival, perairan Anggopi akan dihiasi Parade Mansusu, iring-iringan perahu tradisional khas Biak. Sementara di darat, Parade Wor dan Suling Tambur memeriahkan jalan utama Kota Biak dengan musik dan tarian adat.
Panitia juga menggelar International Underwater Photography Competition di Kepulauan Padaido dan Pulau Owi. Lomba ini bertujuan memperkenalkan keindahan terumbu karang dan biota laut Biak ke kancah internasional. Bagi pecinta alam, tersedia paket bird watching di kawasan hutan konservasi Kampung Mnurwar dan Samber.
Pameran UMKM dan Kuliner Khas Papua
Lapangan Cenderawasih selama festival menjadi pusat pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pengunjung dapat membeli kerajinan tangan khas Papua serta mencicipi festival kuliner tradisional yang menyajikan olahan sagu dan hasil laut segar.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor menargetkan festival ini mampu mendongkrak kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Festival Biak Munara Wampasi 2026 diharapkan memperkuat posisi Biak sebagai destinasi unggulan di kawasan Indonesia Timur.
Editor: Redaktur