Pencarian

Ilmuwan Pantau Gunung Api Bawah Laut di Utara Papua Nugini yang Berpotensi Lahirkan Pulau Baru, Fenomena Langka Terjadi Sejak Mei 2026

Rabu, 08 Juli 2026 • 21:34:01 WIB
Ilmuwan Pantau Gunung Api Bawah Laut di Utara Papua Nugini yang Berpotensi Lahirkan Pulau Baru, Fenomena Langka Terjadi Sejak Mei 2026
Ilmuwan memantau aktivitas gunung api bawah laut di utara Papua Nugini sejak Mei 2026.

PAPUA — Aktivitas vulkanik bawah laut yang terjadi di perairan utara Papua Nugini menjadi perhatian serius para peneliti. Gunung api yang berlokasi di Laut Bismarck ini menunjukkan serangkaian aktivitas sejak awal bulan Mei 2026, memicu spekulasi akan lahirnya daratan baru di tengah laut.

Fenomena ini terbilang langka. Para ilmuwan memanfaatkan teknologi satelit canggih milik NASA, yakni Aqua dan Terra, untuk memantau perkembangan dari luar angkasa. Melalui citra satelit, mereka dapat melihat semburan uap yang menjulang hingga beberapa kilometer ke atmosfer serta perubahan warna air laut akibat abu dan mineral vulkanik.

Dari Gempa Kecil Hingga Hamparan Batu Apung

Tahapan awal aktivitas ini terdeteksi pada 8 Mei 2026. Sensor seismik berhasil menangkap rentetan gempa bumi kecil di dasar laut. Tak lama setelahnya, citra satelit memperlihatkan tanda-tanda aktivitas vulkanik di area yang sebelumnya belum pernah terpetakan secara mendetail.

Material vulkanik terus dikeluarkan secara bertahap dari dasar laut. Endapan lava dan abu vulkanik mulai menumpuk hingga mendekati permukaan air. Para ilmuwan juga memantau hamparan batu apung vulkanik, yang dikenal dengan sebutan pumice rafts, di sekitar lokasi. Batu apung ini terbentuk dari lava yang mengandung gas dan mendingin dengan cepat, lalu hanyut mengikuti arus permukaan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Pulau Baru Bisa Hilang Tergerus Ombak

Meskipun potensi munculnya pulau baru sangat besar, para ilmuwan belum bisa memastikan apakah daratan tersebut akan bertahan lama. Sejarah mencatat, fenomena serupa pernah terjadi sebelumnya. Pulau Surtsey di Islandia, yang muncul akibat letusan gunung api bawah laut pada tahun 1963, masih bertahan hingga kini. Namun, kebanyakan pulau vulkanik lainnya hanya mampu bertahan beberapa bulan hingga hitungan tahun sebelum akhirnya terkikis oleh gelombang laut.

Dengan bantuan teknologi satelit, tim peneliti dapat menganalisis data secara real-time, mulai dari gempa awal hingga potensi terbentuknya daratan baru. Pemantauan ketat masih terus dilakukan untuk mempelajari proses awal terbentuknya pulau vulkanik dan menentukan apakah pulau ini akan bersifat permanen atau hanya sementara.

Bagikan
Sumber: harapanrakyat.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks