Pencarian

Noken Papua Resmi Diakui UNESCO Sebagai Warisan Budaya Takbenda, Begini Filosofi di Balik Tas Kepala yang Mendunia

Kamis, 16 Juli 2026 • 16:22:52 WIB
Noken Papua Resmi Diakui UNESCO Sebagai Warisan Budaya Takbenda, Begini Filosofi di Balik Tas Kepala yang Mendunia
UNESCO secara resmi mengakui Noken Papua sebagai Warisan Budaya Takbenda.

PAPUA — Noken memiliki kedudukan yang jauh melampaui fungsi sebuah tas pada umumnya. Bagi masyarakat Papua, baik yang tinggal di pegunungan maupun pesisir, anyaman dari serat kulit kayu, batang anggrek, atau daun pandan hutan ini adalah napas kehidupan. Cara pemakaiannya yang khas —digantung di kepala dan menjuntai di punggung— bukan tanpa makna; ia melambangkan kekuatan, kerja keras, serta beban hidup yang dipikul oleh orang Papua.

Empat Filosofi yang Membuat Noken Istimewa

Setiap helai rajutan Noken mengandung nilai yang dalam. Pertama, materialnya yang seratus persen alami mencerminkan hubungan erat antara masyarakat adat dengan tanah mereka. Kedua, bagi banyak suku, bentuk Noken melambangkan rahim atau simbol kehidupan. Fungsinya yang serbaguna —dari membawa hasil kebun, kayu bakar, hingga menggendong bayi— membuatnya dianggap sebagai perpanjangan tangan dan kasih sayang seorang ibu.

Ketiga, Noken adalah penanda identitas. Setiap suku di Papua memiliki motif dan teknik pembuatan yang berbeda; dari rajutan Noken, seseorang bisa dikenali asal sukunya. Keempat, Noken hadir dalam setiap fase kehidupan: dari aktivitas ekonomi para ibu yang membawa ubi dan keladi ke pasar, hingga ritual adat, pernikahan, dan simbol perdamaian saat konflik antar suku.

Upaya Menjaga Noken agar Tak Hilang Ditelan Zaman

Tekanan modernisasi dan masuknya produk pabrikan mengancam keberlangsungan tradisi ini. Menyadari hal itu, pemerintah dan komunitas lokal di Papua tidak tinggal diam. Sejumlah langkah konkret telah dijalankan untuk memastikan Noken tetap bertahan sebagai identitas yang dibanggakan.

Pertama, edukasi. Teknik merajut Noken mulai diajarkan kepada generasi muda di sekolah-sekolah dan sanggar seni. Kedua, pengembangan ekonomi kreatif. Noken didorong menjadi produk cinderamata bernilai ekonomi tinggi tanpa menghilangkan nilai sakralnya. Ketiga, pengakuan global dari UNESCO terus dijaga standarnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan kekayaan budaya Papua.

“Noken Adalah Napas Kehidupan bagi Orang Papua”

Pernyataan itu disampaikan oleh Titus Pekei, penggagas Noken Papua ke UNESCO. Menurutnya, Noken bukan sekadar benda pusaka masa lalu. “Ia adalah tas yang membawa sejarah, membawa hasil tanah, dan membawa masa depan masyarakatnya,” tulis Pekei dalam catatannya di Jakarta, 16 Juli 2026.

Dengan status warisan dunia yang disandangnya, Noken kini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Papua, tetapi juga aset budaya Indonesia yang diakui komunitas internasional. Pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama, agar filosofi dan keterampilan merajut Noken tetap hidup dari generasi ke generasi.

Bagikan
Sumber: suarapapua.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks