JAYAPURA — Tradisi Tiaitiki, sistem pengelolaan sumber daya laut warisan turun-temurun masyarakat adat Suku Tepra dan Defonsero Utara di Teluk Tanah Merah, perlahan kehilangan peminat. Praktik konservasi yang diakui secara ilmiah ini kini tergerus arus ekonomi modern yang lebih instan.
Amos Soumilena, anggota DPR Kabupaten Jayapura dari Fraksi Otonomi Khusus, mengatakan masyarakat saat ini lebih tertarik mengelola pantai wisata. “Mereka langsung memperoleh bayaran uang masuk berupa sewa pondok dan bayar parkir, sementara potensi budaya dan peninggalan perang dunia kedua sudah tak dianggap penting lagi karena tidak memberikan manfaat,” ujarnya kepada Jubi, Senin (20/7/2026).
Sistem Konservasi Lokal yang Mulai Pudar
Tiaitiki adalah kearifan lokal yang mengatur zonasi, pemanfaatan, dan pelestarian sumber daya alam di pesisir dan laut. Meski tidak tertulis, sistem ini memiliki kaidah yang selaras dengan peraturan konservasi modern. Namun, seiring waktu, tradisi ini sudah tidak berjalan seperti dulu.
Mantan pengurus adat Defonsero Utara itu mengakui bahwa generasi muda kurang tertarik mempelajari pola etno-konservasi laut semacam ini. “Saya sangat kuatir kalau generasi muda sudah tidak lagi tertarik belajar kearifan lokal seperti Tiatiki ini,” ucapnya prihatin.
Potensi Wisata Sejarah Tak Lagi Dilirik
Selain Tiaitiki, kawasan Teluk Tanah Merah menyimpan jejak sejarah Perang Pasifik berupa tanki-tanki minyak peninggalan tentara sekutu Amerika Serikat. Sayangnya, situs bersejarah ini dianggap sebagai masa lalu yang tidak memberi nilai tambah ekonomi. Pantai dengan pemandangan alam yang indah justru menjadi primadona baru karena langsung mendatangkan uang.
Meski demikian, upaya pelestarian tetap dilakukan. Amos menyebutkan banyak peneliti telah turun ke kampung dan menerbitkan buku muatan lokal berisi konten tradisi adat Suku Tepra, termasuk Tiaitiki, untuk menarik minat generasi muda.
Pentingnya Tiaitiki bagi Pembangunan Berkelanjutan
Dr. Wiklif Yarisetou dalam bukunya berjudul Tiatiki Konsep dan Praktek menyebutkan pengetahuan lokal ini penting digunakan sebagai landasan kebijakan pembangunan pesisir dan laut. Konsep Tiaitiki dinilai sebagai model kegiatan untuk melindungi sumber daya di wilayah pesisir dan laut.
Yarisetou menambahkan, kajian dari buku tersebut diharapkan dapat menginspirasi komunitas lokal untuk tetap melindungi dan mempertahankan kearifannya. Ia mengingatkan peran lembaga adat sangat penting dalam menjalankan kearifan lokal sebagai pembangunan berkelanjutan, agar lingkungan pesisir dan laut tetap terjaga.
Masa Kejayaan Tiaitiki di Era 1990-an
Pada era 1990-an, tradisi Tiaitiki di Teluk Tanah Merah sempat menarik perhatian wisatawan dari Jepang. Bersama Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD), tradisi ini mulai digalakkan kembali, termasuk pengenalan rumpon-rumpon di sana. Puncak acara Tiaitiki biasanya ditandai dengan pembukaan akses bagi warga untuk mengambil potensi laut yang telah ditutup selama enam bulan.
“Paitua mama-mama dorang, pemuda mendayung perahu menuju lokasi sasi atau Tiatiki di Bityayo (Kampung Tua) untuk menangkap ikan. Semua warga sibuk mencari dan menangkap,” kata Menase Soumilena mengenang masa kejayaan tradisi itu. (*)