PAPUA — DoorDash mengumumkan pihaknya telah menerima sertifikasi Part 135 air carrier dari FAA, yang secara legal memungkinkan perusahaan mengoperasikan layanan pengiriman drone komersial di Amerika Serikat. Langkah ini menjadi fondasi bagi divisi baru bernama DoorDash Air, yang dikembangkan oleh tim robotika dan otonomi internal perusahaan.
Armada Otonom DoorDash: Drone dan Robot Kaki Lima
DoorDash Air bukan satu-satunya proyek otonom yang digarap perusahaan. Melalui DoorDash Labs, tim riset dan pengembangan, perusahaan juga telah meluncurkan Dot—robot pengantar trotoar seberat 158 kilogram (350 pon) yang mulai beroperasi sejak September 2025.
Saat ini, Dot telah beroperasi di pinggiran kota Phoenix seperti Tempe, Mesa, Gilbert, dan Chandler, serta di Fremont, California. Rencananya, drone DoorDash Air akan bergabung dalam jaringan yang sama.
Skala Uji Coba: Mulai dari Jarak Dekat
Meski izin sudah kantongi, DoorDash belum memberikan jadwal pasti kapan drone buatannya akan benar-benar mengantar makanan ke pelanggan. Perusahaan kemungkinan akan memulai dengan program uji coba terbatas, di mana drone terbang dalam jarak pendek dan masih dalam garis pandang operator (visual line of sight).
Untuk bisa terbang otonom jarak jauh, DoorDash masih perlu mendapatkan sertifikasi Beyond Visual Line of Sight (BVLOS) dari FAA. Sertifikasi serupa sebelumnya telah diraih oleh Amazon, Wing (anak usaha Alphabet), dan Zipline.
Kemitraan Eksternal Tetap Berjalan
Meskipun mengembangkan armada sendiri, DoorDash menegaskan akan tetap mempertahankan kemitraan yang sudah ada dengan Wing dan Flytrex. Sejak 2022, DoorDash telah bekerja sama dengan Wing untuk layanan drone di Australia, dan memperluasnya ke beberapa kota AS termasuk Dallas-Fort Worth pada 2024.
Sistem Operasi Pengiriman Cerdas
Stanley Tang, salah satu pendiri sekaligus Chief Product Officer DoorDash, menjelaskan bahwa pengembangan drone dan robot trotoar bukan sekadar proyek gimmick. Dalam sebuah unggahan blog, Tang menulis bahwa timnya memulai dari pertanyaan fundamental: masalah pelanggan apa yang sebenarnya perlu dipecahkan?
"Kami tidak mulai dengan pertanyaan, 'Teknologi otonom paling keren apa yang bisa kami buat?'" tulis Tang.
Dari situ, DoorDash Labs mengembangkan Autonomous Delivery Platform—perangkat lunak yang mengatur koordinasi pengiriman secara real-time. Sistem ini mampu memutuskan apakah pesanan lebih cocok dikirim oleh kurir manusia, drone, atau robot Dot berdasarkan rute, jarak, dan kondisi operasional.
Tang menyebut pendekatan ini sebagai "full stack challenge", mencakup perangkat keras, sistem tertanam, hingga algoritma routing. "Kebanyakan perusahaan otonom hanya mengerjakan satu lapisan. Di DoorDash, Anda mengerjakan semuanya secara simultan," ujarnya dalam ajakan rekrutmen untuk insinyur.
Dengan kombinasi drone udara, robot darat, dan kurir manusia, DoorDash perlahan membangun jaringan pengiriman yang tidak lagi bergantung pada satu moda transportasi. Bagi pengguna di Indonesia, model seperti ini mungkin masih terdengar futuristik, tapi persiapan regulasi dan infrastruktur di AS menunjukkan arah yang jelas: pengiriman otonom bukan lagi sekadar konsep.