JAYAPURA — Rumah Jew, rumah adat suku Asmat di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, bukan sekadar bangunan tradisional. Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menyebut rumah adat ini menyimpan nilai-nilai luhur sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan informal bagi generasi muda dan tempat musyawarah tokoh adat.
“Selain itu juga 'Rumah Jew' menjadi pusat musyawarah bagi para tokoh adat dan warga dalam menyelesaikan berbagai persoalan maupun merencanakan langkah strategis demi kemajuan kampung,” kata Safanpo dalam keterangan yang diterima di Jayapura, Selasa.
Safanpo menjelaskan, Rumah Jew merupakan jantung kehidupan, simbol jati diri, sekaligus identitas sakral bagi suku Asmat. Di rumah adat ini, generasi muda bisa mempelajari tata krama, adat istiadat, serta keterampilan tradisional seperti mengukir, menari, dan menganyam.
“Untuk itu kami mengajak masyarakat Kabupaten Asmat agar menjadikan 'Rumah Jew' sebagai simbol persatuan dan semangat bergotong royong,” ujarnya.
Rumah Jew dikenal juga sebagai rumah bujang. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung persegi panjang yang terbuat dari kayu, dengan dinding dan atap dari daun pohon sagu atau pohon nipah yang telah dianyam.
Uniknya, Rumah Jew tidak menggunakan paku sama sekali. Sebagai pengganti, akar rotan digunakan untuk menghubungkan setiap bagian bangunan. Panjang rumah ini bisa mencapai 30 hingga 50 meter dengan banyak pintu.
“Dan setiap pintu mewakili satu klan (marga) tertentu di kampung tersebut,” ujarnya menambahkan.
Safanpo menekankan bahwa Rumah Jew harus dijaga bersama agar tidak punah seiring perkembangan zaman. Sebagai pusat budaya dan identitas, rumah adat ini menjadi warisan yang perlu diwariskan ke generasi berikutnya.
Pemerintah Provinsi Papua Selatan mengajak seluruh masyarakat Asmat untuk menjadikan Rumah Jew sebagai simbol persatuan dan semangat gotong royong dalam menjaga kelestarian budaya lokal.