LMA Jayawijaya Ajak Masyarakat Wamena Jaga Stabilitas Keamanan Pasca Perdamaian Adat Patah Panah

Penulis: Udin Syamsul  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 19:04:39 WIB
Ketua LMA Jayawijaya Herman Doga mengajak masyarakat Wamena menjaga stabilitas keamanan pasca perdamaian adat.

WAMENA — Ketua LMA Jayawijaya Herman Doga menegaskan bahwa Wamena bukan sekadar pusat pemerintahan kabupaten dan provinsi, melainkan “Honai” atau rumah adat besar bagi seluruh masyarakat di Papua Pegunungan. Pernyataan ini ia sampaikan di Wamena, Jumat, sebagai seruan agar tidak ada lagi gesekan antarsuku yang dapat mencederai nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Konflik sosial setelah adanya perdamaian adat di Mapolres Jayawijaya tidak boleh lagi terjadi di Wamena karena dapat mengganggu seluruh aktivitas di daerah ini,” ujar Herman Doga.

Konflik Saudara yang Telah Selesai Secara Adat

Menurut Herman, konflik antarsuku yang sempat terjadi di Wamena pada dasarnya adalah konflik saudara. Ia menekankan bahwa seluruh masyarakat di wilayah Papua Pegunungan merupakan satu keluarga besar sehingga perselisihan harus dihindari.

Prosesi adat patah panah yang telah digelar di Mapolres Jayawijaya menjadi simbol resolusi konflik secara tradisional. Herman mengingatkan agar tidak ada lagi perang suku di Papua Pegunungan, khususnya di Wamena, setelah ritual adat tersebut dilaksanakan.

Dampak Jika Keamanan Tidak Terjaga

Herman mengajak masyarakat menjaga “Honai besar” tersebut agar aktivitas sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi dapat terus berjalan. Ia menekankan bahwa stabilitas keamanan menjadi prasyarat utama untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.

Jika konflik kembali terjadi, seluruh sektor kehidupan warga dipastikan lumpuh. Aktivitas belajar mengajar di sekolah, pelayanan di puskesmas, hingga roda perekonomian di pasar-pasar tradisional Wamena akan terhenti.

Apa yang Dimaksud dengan Honai Besar?

Dalam konteks budaya Papua Pegunungan, Honai adalah rumah adat yang menjadi simbol persatuan dan perlindungan. Herman Doga menyebut Wamena sebagai Honai bersama yang harus menjadi tempat aman dan damai bagi semua suku yang ada di provinsi tersebut.

“Seluruh masyarakat di wilayah Papua Pegunungan adalah saudara dan keluarga sehingga konflik tidak boleh terjadi lagi,” katanya menambahkan.

Bagaimana Warga Bisa Berperan Aktif?

LMA Jayawijaya berharap masyarakat tidak hanya pasif menunggu aparat keamanan, tetapi juga aktif menjaga lingkungan masing-masing. Setiap individu diminta melaporkan potensi gesekan sejak dini kepada tokoh adat atau pihak kepolisian.

Warga juga diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan antar suku di Wamena. Menjaga komunikasi dan silaturahmi antar kampung dinilai sebagai kunci utama meredam konflik.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: papua.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top