PAPUA — Pergerakan rupiah pada awal pekan ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,4% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di kisaran Rp17.740 per dolar AS.
Analis pasar uang menilai tekanan utama terhadap rupiah berasal dari eksternal. Harga minyak mentah acuan global, Brent, tercatat naik ke level tertingginya dalam sepekan terakhir.
Kenaikan harga komoditas energi ini mendorong penguatan dolar AS di hampir semua lini. Investor cenderung menghindari aset berisiko dari negara berkembang, termasuk Indonesia, karena khawatir lonjakan harga energi akan memperburuk defisit transaksi berjalan dan memicu inflasi impor.
Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat ke posisi 106,2 pada sesi Asia siang ini. Penguatan ini didorong oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Data klaim pengangguran AS yang lebih rendah dari perkiraan pekan lalu turut menambah optimisme terhadap ketahanan ekonomi AS. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun ikut naik, semakin memperkuat daya tarik dolar sebagai aset safe haven.
Pelaku pasar memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali melakukan intervensi ganda (dual intervention) di pasar spot dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk menahan laju pelemahan rupiah. Langkah serupa sudah ditempuh BI pada pekan lalu saat rupiah mendekati level psikologis Rp17.800.
“Tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek selama harga minyak belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Intervensi BI memang diperlukan, tetapi efektivitasnya terbatas di tengah kuatnya dolar AS,” ujar seorang analis pasar uang yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis akhir pekan ini menjadi perhatian selanjutnya. Jika cadangan devisa turun signifikan akibat intervensi besar-besaran, hal itu bisa kembali menekan kepercayaan pasar terhadap rupiah.