PAPUA — Motor listrik terbaru dari Charged Indonesia ini membawa perubahan signifikan dalam hal pengisian daya. Alih-alih hanya mengandalkan charger bawaan atau stasiun penukaran baterai, model ini dibekali konektor Type 2 yang kompatibel dengan sejumlah SPKLU AC di Indonesia. Informasi ini diperoleh VIVA Otomotif pada Selasa, 30 Juni 2026.
Selama ini, pengguna motor listrik di Indonesia terbatas pada dua opsi pengisian: mencolokkan charger ke stopkontak rumah atau mencari stasiun penukaran baterai. Kedua metode itu punya keterbatasan, terutama saat perjalanan jauh. Dengan konektor Type 2, motor listrik Charged bisa memanfaatkan infrastruktur SPKLU yang sudah dibangun untuk mobil listrik.
Ini artinya, pengendara tidak perlu lagi membawa charger khusus atau bergantung pada merek tertentu. Selama SPKLU AC menyediakan soket Type 2, proses pengisian daya bisa dilakukan. Hal ini membuka akses yang lebih luas bagi pemilik motor listrik untuk melakukan perjalanan antar kota.
Meski begitu, tidak semua SPKLU di Indonesia bisa digunakan. Sebagian besar stasiun pengisian cepat atau DC fast charging menggunakan konektor CCS2 atau CHAdeMO yang tidak kompatibel dengan sistem pengisian AC motor ini. Oleh karena itu, pemilik kendaraan wajib memeriksa tipe konektor yang tersedia sebelum memarkir motor di stasiun pengisian.
Informasi mengenai jenis konektor biasanya tercantum langsung pada unit SPKLU atau bisa dicek melalui aplikasi penyedia layanan pengisian kendaraan listrik. Langkah ini penting untuk menghindari situasi di mana motor tidak bisa diisi daya setelah tiba di lokasi.
Motor listrik terbaru dari Charged Indonesia ini dibekali baterai berkapasitas 4 kWh. Dengan pengisian cepat, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi daya dari 5 persen hingga 80 persen hanya sekitar 40 menit. Kecepatan maksimum motor ini diklaim mencapai 125 km/jam, menjadikannya pilihan yang layak untuk mobilitas perkotaan maupun perjalanan jarak menengah.
Kehadiran motor ini menjadi bukti bahwa teknologi pengisian daya kendaraan listrik roda dua mulai menyatu dengan ekosistem yang sudah ada untuk mobil. Langkah ini bisa mendorong pabrikan lain untuk mengadopsi standar serupa, sehingga infrastruktur SPKLU yang sudah terbangun bisa dimanfaatkan secara lebih optimal.