PAPUA — Pertemuan Argentina dan Inggris di semifinal Piala Dunia 2006 di Atlanta, Rabu (20:00 BST), bukanlah laga sepak bola biasa. Di balik tensi pertandingan, tersimpan sejarah panjang yang melampaui gawang dan lapangan hijau. Bagi Argentina, nyanyian tentang Kepulauan Falklands—atau Malvinas dalam bahasa Spanyol—adalah ekspresi identitas yang terus bergema di stadion dan konser rock.
Perang Falklands pada 1982 hanya berlangsung 74 hari, tapi merenggut 907 jiwa—649 tentara Argentina, 255 personel Inggris, dan tiga warga sipil Kepulauan Falklands. Kekalahan itu meninggalkan luka kolektif yang dalam bagi Argentina, di mana Kepulauan Malvinas masih menjadi wilayah seberang laut Inggris sejak 1833.
Kenangan akan para prajurit yang gugur terus dirawat. Sebelum laga persahabatan melawan Zambia di La Bombonera, Maret lalu, para veteran Perang Falklands ikut bernyanyi di lapangan bersama pemain. Lagu "siapa yang tidak melompat adalah orang Inggris" menjadi rutin dinyanyikan penonton—bukan karena benci, kata jurnalis Argentina Nicolas Rotnitzsky, tapi untuk menegaskan "kami berbeda dari mereka."
Gelandang Argentina Rodrigo De Paul menegaskan nyanyian timnya lebih tentang pahlawan nasional. "Kami harus paham ini pertandingan sepak bola. Masalah Malvinas perlu dibahas di tempat lain," ujarnya. Namun, politik dan olahraga sulit dipisahkan. Menteri Luar Negeri Argentina Pablo Quirno pekan ini menyebut penduduk Falklands "ditanam secara artifisial oleh kekuatan pendudukan," yang langsung dibantah Inggris.
Bahkan FIFA tak bisa mengabaikan politik. Wasit Premier League Anthony Taylor sempat menjadi kandidat memimpin final Piala Dunia 2022, namun dicoret saat Argentina lolos ke partai puncak.
Empat tahun setelah perang usai, Diego Maradona menjadi simbol pembalasan Argentina. Di perempat final Piala Dunia 1986, ia mencetak dua gol—satu "Tangan Tuhan" yang kontroversial, satu lagi solo run brilian—yang membawa Argentina menang 2-1. "Pertandingan ini sangat berarti dan membawa banyak kenangan karena apa yang dilakukan Diego," kata De Paul.
Sejak 1986, kedua tim bertemu tiga kali di Piala Dunia: 1998 (Inggris kalah adu penalti usai kartu merah David Beckham), 2002 (Beckham balas dendam lewat penalti), dan 2005 (kemenangan dramatis Inggris 3-2 di laga persahabatan).
Berbeda dengan Inggris yang kerap dikritik karena nyanyian "Ten German Bombers," Federasi Sepak Bola Argentina justru mempromosikan nyanyian politik. Akun resmi Argentina di X mengunggah video pemain bernyanyi "Untuk Malvinas, untuk Diego, untuk Leo yang terakhir" usai mengalahkan Mesir di babak 16 besar. Kiper Inggris Jordan Pickford menanggapinya enteng: "Ini hanya pertandingan sepak bola. Biarkan sepak bola yang bicara."