JAKARTA — Pertemuan antara Kepala FBI Kash Patel dan Presiden Prabowo Subianto di kediaman Kertanegara bukan sekadar kunjungan kehormatan biasa. Momen tersebut menjadi titik terang bagi upaya panjang pemerintah Indonesia memulangkan benda budaya yang hilang ke luar negeri.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengonfirmasi bahwa benda-benda yang diserahkan berasal dari tiga wilayah adat besar di Papua: suku Dani, suku Asmat, dan suku Danau Sentani. Ketiganya memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat setempat.
"Kerja sama dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dengan FBI, yaitu pengembalian benda-benda budaya yang diselundupkan ke Amerika Serikat secara ilegal," kata Fadli di Jakarta, Kamis (23/7).
Sebelum diserahkan, FBI menjalani proses provenance research atau penelitian asal-usul artefak. Setelah terbukti secara ilmiah bahwa benda-benda itu berasal dari Papua, Kash Patel secara langsung membawanya dan menyerahkan kepada Presiden Prabowo. Langkah ini menunjukkan adanya prosedur ketat dalam kerja sama lintas negara terkait barang bukti budaya.
Menurut Fadli Zon, FBI sebelumnya juga tercatat beberapa kali membantu Indonesia mengembalikan artefak penting, termasuk arca perunggu dan benda budaya dari sejumlah situs bersejarah. Pola kerja sama ini dinilai efektif dan diharapkan terus berlanjut.
"Kita harapkan kerja sama dengan FBI terutama terkait repatriasi dan restitusi benda-benda budaya ini ke depannya semakin kuat," ujar Fadli.
Pemerintah memastikan artefak-artefak yang telah dikembalikan akan dipamerkan di Museum Nasional. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memulihkan kedaulatan budaya nasional sekaligus memperkaya pengetahuan masyarakat terhadap warisan sejarah bangsa.
Dalam pertemuan tersebut, turut hadir Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kepala BIN M Herindra, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Wakil Ketua Komisi I DPR Budisatrio Djiwandono, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran lintas lembaga ini menandakan pengembalian artefak bukan sekadar urusan kebudayaan, melainkan juga menyangkut diplomasi dan keamanan nasional.