PAPUA — Efisiensi energi mobil listrik seringkali diukur dari kapasitas baterai dan jarak tempuh maksimal. Padahal, ada metrik yang lebih jujur: konsumsi energi per kilometer (Wh/km atau Wh/mi). Dua SUV listrik asal India, Tata Sierra.ev dan Mahindra BE 6, baru-baru ini jadi sorotan karena angka konsumsi listriknya yang impresif di siklus pengujian lokal.
Kedua model ini menunjukkan bahwa bobot dan dimensi mobil sangat menentukan efisiensi. Mereka membuktikan, mobil yang lebih kecil dan ringan bisa lebih hemat energi daripada EV besar yang beredar di Amerika Serikat, meski kapasitas baterainya lebih kecil.
Angka jarak tempuh (range) sering jadi patokan utama, tapi angka itu bisa menipu. Mobil dengan baterai 100 kWh pasti punya range lebih jauh dari baterai 60 kWh, tapi konsumsi listriknya juga jauh lebih boros. Metrik Wh/km mengukur seberapa efisien mobil mengubah listrik menjadi gerakan.
Semakin rendah angka Wh/km, semakin irit mobil tersebut. Ini berdampak langsung pada biaya pengisian daya dan emisi karbon per kilometer. Untuk pasar seperti Indonesia, di mana jarak tempuh harian rata-rata di bawah 50 km, efisiensi tinggi artinya biaya operasional bisa ditekan sangat rendah.
Tata Sierra.ev tampil dengan desain SUV klasik yang ikonik, sementara Mahindra BE 6 hadir dengan gaya crossover modern yang tajam. Keduanya mengusung dimensi yang masuk kategori kompak, lebih kecil dari SUV listrik populer seperti Tesla Model Y atau Hyundai Ioniq 5 yang beredar di pasar global.
Ukuran yang lebih ramping ini mengurangi hambatan udara dan bobot total kendaraan. Hasilnya, motor listrik tidak perlu bekerja ekstra untuk menggerakkan mobil, terutama di siklus perkotaan yang penuh stop-and-go. Efisiensi inilah yang membuat konsumsi listriknya rendah.
Berdasarkan hasil pengujian siklus lokal India, Tata Sierra.ev dan Mahindra BE 6 mencatatkan konsumsi listrik yang lebih rendah jika dibandingkan dengan EV berukuran besar di Amerika Serikat. Ini menunjukkan efisiensi bukan cuma soal teknologi baterai, tapi juga desain kendaraan secara keseluruhan.
Perlu dicatat, angka efisiensi ini didapat dari siklus pengujian lokal India yang mungkin berbeda dengan kondisi jalan di Indonesia. Karakter jalan tol bertol, suhu udara, dan kebiasaan berkendara akan memengaruhi angka konsumsi energi riil di lapangan.
Selain itu, kedua model ini belum resmi dijual di Indonesia. Jika pun masuk, harga dan ketersediaan layanan purna jual akan jadi faktor penentu. Namun, tren ini menegaskan bahwa EV kompak bisa menjadi solusi mobilitas yang lebih efisien dan terjangkau untuk pasar Asia Tenggara.