PAPUA — PitchBook, platform data finansial, memperkirakan valuasi Retro kini telah menembus angka US$100 juta. Angka ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap model pengembangan aplikasi yang mengedepankan privasi dan koneksi personal ini.
Retro hadir dengan filosofi yang berbeda dari platform berbagi foto kebanyakan. Alih-alih menampilkan konten dari kreator yang direkomendasikan oleh algoritma, aplikasi ini berfokus untuk memastikan foto dan video yang diambil pengguna dapat mencapai audiens yang dituju, yaitu teman dan keluarga mereka.
“Sesuatu yang harus benar dan akan selalu benar adalah bahwa orang-orang akan tetap ingin melihat lebih banyak konten dari teman mereka,” ujar Sharp kepada TechCrunch pada Desember lalu. Ia menambahkan bahwa foto dan video yang diambil pengguna “perlu menemukan tempat di mana mereka dapat menjangkau audiens yang dituju.”
Sejak diluncurkan pada 2023 sebagai jurnal foto pribadi, Retro telah mengembangkan berbagai fitur. Pengguna kini dapat berbagi foto mingguan secara pribadi dengan teman, membuat album bersama, melihat rekap momen, hingga fitur "rewind" untuk bernostalgia melihat kembali kenangan foto di masa lalu.
Berbeda dengan platform media sosial lain yang bergantung pada iklan, Retro menerapkan model bisnis berlangganan. Melalui langganan dalam aplikasi, pengguna mendapatkan akses ke fitur tambahan seperti dukungan komentar video dan GIF, lebih banyak pilihan gaya, riwayat foto tanpa batas, serta ikon aplikasi khusus. Data dari Appfigures menunjukkan aplikasi ini telah diunduh sekitar 7 juta kali sejak peluncurannya.
Meskipun jumlah pengguna yang berlangganan masih merupakan sebagian kecil dari total pengguna, data menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pengeluaran dalam aplikasi (in-app spending) tercatat melonjak lebih dari 460 persen dalam 180 hari terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa pengguna yang memutuskan untuk berlangganan adalah pelanggan setia yang menjadikan Retro sebagai aplikasi berbagi foto utama mereka.
Dukungan finansial untuk Retro datang dari sejumlah investor ternama, termasuk Thrive Capital, CEO Figma Dylan Field, Scribble Ventures, Box Group, Imaginary Ventures, Coalition, Conviction, Copper, dan Positive Sum, serta sejumlah investor individu lainnya.
Dengan modal yang kini dimiliki, Retro berada di posisi yang kuat untuk terus mengembangkan platformnya dan memperluas jangkauan pengguna, membuktikan bahwa masih ada ruang bagi aplikasi sosial yang mengutamakan kedekatan dan koneksi antar individu di era digital ini.