JAYAPURA — Warga di tiga distrik merasakan guncangan signifikan saat gempa bumi melanda daratan Papua pada Rabu pagi (2/9/2026). BMKG mengonfirmasi episentrum berada di darat dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Data resmi BMKG menyebutkan gempa terasa pada skala intensitas IV MMI—kondisi ketika orang banyak di dalam rumah merasakan getaran jelas, bahkan sebagian terbangun. Wilayah terdampak meliputi Bonggo dan Pantai Timur di Kabupaten Sarmi, serta Kaureh di Kabupaten Jayapura.
Skala IV MMI menggambarkan guncangan yang tidak hanya dirasakan, tetapi juga menimbulkan reaksi nyata dari warga. Pada tingkat ini, benda-benda gantung bergoyang, pintu berderik, dan kendaraan yang berhenti bergoyang nyata.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini termasuk kategori dangkal. Penyebabnya adalah deformasi dalam kerak bumi dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault.
"Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas IV MMI di Bonggo, Sarmi; Pantai Timur, Sarmi; serta Kaureh, Jayapura," ujar Wijayanto dalam rilis resminya, Rabu (2/9/2026).
Kabar baiknya, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Hasil pemodelan menunjukkan tidak ada ancaman gelombang yang mengikuti guncangan tersebut.
Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan warga untuk menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat getaran. Imbauan ini disampaikan mengingat gempa dangkal biasanya diikuti aktivitas susulan.
Hingga pukul 07.21 WIB, monitoring BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa bumi susulan yang dikenal sebagai aftershock. Tim terus memantau perkembangan dan akan menyampaikan pembaruan informasi kepada pemangku kepentingan serta masyarakat.
BMKG meminta warga tetap tenang dan tidak mudah percaya pada isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Informasi resmi hanya bersumber dari kanal komunikasi BMKG yang telah terverifikasi.
Warga di tiga distrik terdampak—Bonggo, Pantai Timur, dan Kaureh—diminta memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal masing-masing. Gempa dangkal kerap menyebabkan kerusakan struktural yang tidak langsung terlihat.
"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," pesan Wijayanto.