Pedagang umbi-umbian di Pasar Wamena, Papua Pegunungan, masih kesulitan mendapatkan uang rupiah baru karena akses ke layanan perbankan terbatas. Bank Indonesia Perwakilan Papua pun menggencarkan Ekspedisi Rupiah Berdaulat dan kas keliling untuk memastikan uang layak edar sampai ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal di empat provinsi di Tanah Papua.
JAYAPURA — Setiap pagi sebelum berangkat ke Pasar Wamena, Mama Natalia Tabuni selalu memastikan uang rupiahnya tersimpan rapi di dalam kotak celengan besi. Uang itu lusuh, sebagian mulai sobek, tetapi tetap menjadi modal utama dagangannya sehari-hari.
"Di sini agak susah melihat uang rupiah baru. Kalau ada petugas bank datang atau kami ke kantor bank, baru bisa dilakukan penukaran," kata Mama Natalia saat dijumpai di pasar.
Wanita yang menjual komoditas umbi-umbian dan sayuran ini sudah terbiasa menerima uang dalam berbagai kondisi fisik. Ia tetap menyimpannya dengan rapi karena rupiah merupakan alat pembayaran yang sah—dan satu-satunya—yang bisa digunakan untuk menggerakkan roda ekonomi keluarganya di Kabupaten Jayawijaya.
Mengapa Uang Layak Edar Langka di Papua?
Persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya uang tunai. Wilayah kerja Bank Indonesia Perwakilan Papua mencakup empat provinsi—Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan—dengan kondisi geografis yang ekstrem. Akses transportasi reguler ke kawasan perbatasan, pulau terpencil, dan pegunungan masih menjadi tantangan terbesar dalam distribusi rupiah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Warsono menyebut luas wilayah dan medan yang menantang menjadikan pendistribusian uang bukan sekadar persoalan logistik. Ketersediaan uang layak edar menjadi bagian penting dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat di pelosok.
Ekspedisi Rupiah Berdaulat: Kehadiran Negara di Tengah Keterbatasan
Melalui kegiatan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) dan layanan kas keliling, Bank Indonesia berupaya menjangkau wilayah 3T di Tanah Papua. Bagi BI, pengedaran uang ke daerah terpencil tidak dipandang sebagai kegiatan distribusi biasa—ini bagian dari tugas menjaga stabilitas sistem pembayaran dan menegaskan bahwa rupiah adalah alat pembayaran yang sah, identitas bangsa, serta lambang kedaulatan negara.
Tim ERB tidak hanya menukarkan uang. Mereka juga membawa edukasi dan sosialisasi tentang cara merawat uang rupiah—sebuah pengetahuan yang sulit didapat masyarakat di kawasan terpencil.
Kegembiraan Warga Pulau Owi Saat Tim ERB Datang
Morin, warga Pulau Owi di Kabupaten Biak Numfor, mengaku senang ketika kegiatan penukaran uang datang langsung ke wilayahnya. Baginya, memegang uang baru adalah momen langka.
"Sangat jarang memegang uang dalam kondisi baru," ujarnya. Ia menambahkan, kehadiran tim ERB memberikan manfaat besar terutama bagi anak-anak sekolah yang tidak selalu mudah mendapatkan pengetahuan tentang rupiah—bagaimana merawatnya dan memahami fungsinya sebagai alat pembayaran yang sah.
Kebiasaan sederhana Mama Natalia dan Morin menunjukkan bahwa masyarakat di pergunungan maupun pesisir Papua memiliki perhatian terhadap kondisi rupiah yang mereka gunakan setiap hari. Di tengah keterbatasan akses, uang tunai masih menjadi instrumen penting dalam transaksi sehari-hari.
Bank Indonesia memandang tanpa kehadiran langsung, kebutuhan masyarakat di wilayah 3T terhadap uang layak edar sulit dipenuhi secara merata. Karena itu, kerja sama dengan berbagai pihak terus dibangun—bukan hanya untuk mendistribusikan uang, tetapi juga memastikan warga di pulau terpencil, kawasan perbatasan, dan pegunungan tetap terhubung dengan sistem ekonomi nasional.