PAPUA — Dua korban selamat pertama berhasil dievakuasi dari kedalaman terowongan proyek listrik yang porak-poranda diterjang banjir dan tanah longsor. Mereka adalah Sanjaya Shah dan Kabir Maharjan, yang keduanya langsung diterbangkan ke rumah sakit di ibu kota Kathmandu untuk mendapatkan perawatan intensif.
Shah dilarikan ke rumah sakit di Battar, sementara Maharjan bersiap dipindahkan ke Rumah Sakit Militer Chhauni. Kondisi keduanya belum diumumkan secara resmi, namun proses evakuasi yang cepat mengindikasikan mereka dalam status kritis namun stabil.
Proyek PLTA Trishuli 3A menjadi prioritas utama tim SAR internasional yang dikerahkan ke lokasi bencana. Alasannya jelas: ratusan pekerja masih mungkin terperangkap di lorong bawah tanah yang dalam, tertutup endapan lumpur dan puing setelah hujan deras melanda kawasan tersebut.
Kementerian Energi Nepal menyatakan kepada BBC bahwa mereka memperkirakan setidaknya 42 pekerja bisa diselamatkan dari terowongan tersebut. Keyakinan ini muncul setelah tim penyelamat mendengar suara teriakan dari dalam lorong pada Jumat pagi, menandakan masih ada tanda-tanda kehidupan di antara puing-puing.
Banjir bandang yang disertai tanah longsor ini tidak hanya menghantam proyek infrastruktur. Empat distrik di Nepal—Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre—berserta Lembah Kathmandu mengalami kerusakan parah. Jalanan terputus, permukiman warga hanyut, dan akses ke daerah terdampak sempat lumpuh total.
Kejadian ini menjadi salah satu ujian terberat bagi kesiapsiagaan bencana Nepal, negara yang kerap dilanda bencana geologis dan hidrometeorologis. Keberhasilan tim SAR mengevakuasi dua pekerja tersebut memberikan secercah harapan di tengah duka yang masih menyelimuti proses pencarian korban lainnya.
Operasi penyelamatan di lokasi PLTA Trishuli 3A masih terus berlanjut. Dengan peralatan berat dan tim gabungan yang dikerahkan, pertanyaan yang kini menggantung di benak publik Nepal adalah berapa banyak lagi nyawa yang bisa diselamatkan dari kedalaman terowongan tersebut dalam beberapa jam ke depan.