PBB Adopsi Peta Equal Earth, Ukuran Afrika dan Asia Selatan Kini Lebih Akurat

Penulis: Reza Maulana  •  Rabu, 09 September 2026 | 12:49:31 WIB
negara setujui adopsi Equal Earth sebagai standar peta dunia dalam sidang Majelis Umum PBB.

PAPUA — Keputusan ini diambil dalam sidang Majelis Umum PBB yang digagas sejumlah negara Afrika. Hasilnya, 164 negara menyatakan dukungan, sementara AS tercatat menolak dan enam negara lainnya memilih abstain. Resolusi ini mendorong negara-negara anggota untuk mengadopsi Equal Earth sebagai standar representasi kartografi dunia.

Mengapa Peta Mercator Dianggap Bermasalah

Proyeksi Mercator yang dirancang Gerardus Mercator pada 1569 awalnya dibuat untuk kepentingan navigasi maritim. Metode ini memang unggul dalam menggambarkan bentuk dan sudut daratan secara presisi, tetapi konsekuensinya, proporsi luas wilayah menjadi tidak akurat.

Fenomena ini terjadi karena tantangan memindahkan permukaan bola dunia tiga dimensi ke bidang datar dua dimensi. Akibatnya, wilayah di utara seperti Eropa dan Amerika Utara tampak jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya, sementara kawasan di sekitar garis khatulistiwa seperti Afrika dan Amerika Selatan terlihat mengecil.

Perbedaan Visual yang Signifikan

Dengan Equal Earth, proporsi luas benua ditampilkan sesuai realita. Kawasan seperti Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, hingga Oseania akan tampak lebih luas, sementara Amerika Utara dan Eropa menyusut secara visual.

Salah satu kartografer di balik Equal Earth, Bojan Savric, menjelaskan keunggulan proyeksi anyar ini. "Equal Earth mempertahankan perbandingan luas permukaan benua-benua dan berupaya semaksimal mungkin menunjukkan bentuk aslinya seperti yang terlihat pada bola dunia," ujarnya.

Kritik AS dan Respons Sponsor Resolusi

Penolakan AS disampaikan perwakilannya, Yaryna Ferencevych. Pihaknya menilai langkah ini kontraproduktif di tengah berbagai krisis global yang membutuhkan perhatian PBB. "Alih-alih fokus pada masalah-masalah yang sesungguhnya, badan ini malah memperdebatkan proyeksi peta dari abad ke-16," kecamnya.

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, yang menjadi salah satu penggagas, menekankan dampak fundamental peta terhadap cara pandang masyarakat dunia. "Peta memandu pendidikan, menumbuhkan imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif. Karenanya peta tak pernah netral. Ketika peta menyajikan gambaran planet kita yang terdistorsi, ada risiko melestarikan representasi tidak akurat yang diwariskan dari generasi ke generasi," jelas Dussey.

Prancis Beralih dan Konteks Hubungan dengan Afrika

Prancis, yang turut mensponsori resolusi, langsung mengumumkan komitmennya meninggalkan peta Mercator. Menteri Luar Negeri Jean Noel Barrot menyoroti distorsi yang mencolok pada proyeksi lama, di mana Greenland tampak nyaris sebesar Afrika.

"Dalam peta tersebut Amerika Serikat, Rusia, dan China tampak memiliki dominasi visual yang tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara," ungkap Barrot. Keputusan ini juga tak lepas dari upaya Paris memperbaiki hubungan dengan negara-negara bekas koloninya di Afrika yang belakangan diwarnai ketegangan diplomatik.

Equal Earth sendiri pertama kali diperkenalkan sekelompok kartografer pada 2018 sebagai alternatif representasi dunia yang lebih adil secara proporsional. Meski demikian, adopsi resmi oleh PBB baru terwujud melalui resolusi kali ini.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top