Pencarian

Survei Stanford: 80% Warga Asia Tenggara Yakin AI Berdampak Positif, Indonesia Tertinggi

Senin, 07 September 2026 • 18:51:01 WIB
Survei Stanford: 80% Warga Asia Tenggara Yakin AI Berdampak Positif, Indonesia Tertinggi
Optimisme warga Asia Tenggara terhadap dampak positif AI mencapai 80 persen, dengan Indonesia mencatatkan tingkat keyakinan tertinggi.

PAPUA — Keyakinan publik terhadap dampak positif AI di Asia Tenggara berbanding terbalik dengan sentimen di negara maju. Data Stanford University yang dipaparkan dalam seminar CaniExpo 2026 menunjukkan optimisme tinggi di kawasan ini, sekaligus memicu diskusi tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan teknologi yang berkembang pesat.

Optimisme Asia Tenggara vs Skeptisisme Amerika Serikat

Romo A. Setyo Wibowo SJ, pembicara dalam seminar tersebut, menyoroti perbedaan persepsi yang mencolok. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, 80% responden meyakini AI akan memberikan dampak bermanfaat dalam kehidupan mereka.

Sebaliknya, mayoritas responden di AS justru khawatir. Hanya 31% yang memiliki pandangan positif, sementara sisanya percaya AI akan membawa dampak buruk. Perbedaan ini menunjukkan konteks sosial dan ekonomi memengaruhi cara masyarakat memandang teknologi.

Ancaman Dopamin: Smartphone dan Generasi Muda

Kekhawatiran utama yang diangkat Romo Setyo adalah dampak AI terhadap anak-anak. Ia mengutip buku Jonathan Haidt yang menyebut smartphone modern dirancang adiktif, diperkuat algoritma AI yang mempelajari preferensi pengguna.

Data Common Sense Media (2024-2025) memaparkan anak usia 6-12 tahun menghabiskan lebih dari 3,5 jam per hari di luar kebutuhan sekolah. Angka itu melonjak hingga 7-9 jam sehari untuk remaja. Algoritma ini memicu pelepasan dopamin, hormon kebahagiaan, yang membuat anak resah saat tidak mengakses aplikasi.

Posisi Gereja: Teknologi Tidak Pernah Netral

Romo Setyo menegaskan dokumen gereja memandang teknologi tidak jahat, tetapi juga tidak sepenuhnya netral. Selalu ada kepentingan modal dan kekuasaan di balik penciptaannya.

Tanpa pengawasan, ruang digital memfasilitasi isolasi dan perundungan siber. Kisah Jenny, remaja 13 tahun dalam serial Adolescence, menjadi contoh nyata paparan konten maskulinitas berbahaya melalui media sosial. Gereja menekankan pendidikan tidak boleh berhenti pada keterampilan teknis, melainkan harus menjaga kemanusiaan dari eksploitasi.

Teknofeodalisme: Pengguna sebagai Pekerja Tak Dibayar

Argumen bahwa AI memudahkan akses informasi dan menciptakan efisiensi memang valid. Namun Romo Setyo mengingatkan adanya sistem "Teknofeodalisme" yang sengaja dirancang di balik kemudahan aplikasi harian.

Pengguna merasa dilayani AI, padahal kenyataannya data mereka terus diserap perusahaan teknologi raksasa. Data tersebut digunakan untuk mengembangkan AI dan meningkatkan laba, menjadikan pengguna sebagai pekerja tanpa bayaran dalam rantai nilai ekonomi digital.

Adaptasi Kritis di Tengah Optimisme

Romo Setyo tidak mengambil pendirian konservatif. Ia justru menekankan pentingnya adaptasi dan pemikiran kritis untuk memanfaatkan AI secara maksimal.

"Bukan apakah superintelligence akan ada tapi siapa yang punya akses dan bagaimana kita memposisikan diri dengan kehadirannya," tegasnya. Pernyataan ini menempatkan manusia sebagai subjek yang harus aktif menentukan arah penggunaan teknologi, bukan sekadar objek pasif.

Bagi Indonesia yang optimistis terhadap AI, tantangan terbesar bukan adopsi teknologi, melainkan membangun kesadaran kritis. Kecanduan dopamin pada anak dan manipulasi data adalah ancaman nyata yang harus dihadapi institusi pendidikan dan keluarga. Sepintar apa pun AI, ia tidak akan pernah memiliki empati dan kebijaksanaan yang menjadi karunia khas manusia.

Follow jayapuraonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kompasiana.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks