PAPUA — Asus Zenbook 14 hadir sebagai jawaban atas tren laptop Windows murah yang menyasar mahasiswa. Saya memakainya untuk mereplikasi beban tiga jurusan berbeda — sejarah, sains, dan media studies — berdasarkan wawancara dengan beberapa mahasiswa di universitas lokal. Unit yang diuji adalah varian 16GB seharga £1.199, tapi saya sengaja membatasi alokasi RAM Windows ke 8GB lewat BIOS untuk mengukur performa versi termurahnya.
Bobot 2,4 pon atau sekitar 1,09 kg membuat laptop ini nyaman masuk tas tanpa membebani bahu. Materialnya bukan ceraluminum seperti Zenbook A14, melainkan plastik — tapi finishing-nya tetap terasa solid dan tidak murahan.
Keyboard-nya enak dipakai mengetik cepat, touchpad-nya luas dengan klik yang mantap. Bagian layar memang sedikit fleksibel saat ditekan, tapi keyboard deck-nya kaku. Pilihan warna biru yang saya pegang termasuk yang paling menarik di kelas harga ini.
Panel OLED 14 inci 1080p 60Hz ini jadi pembeda utama dari kompetitor sekelasnya. Tingkat ketajamannya cukup, kecerahan memadai untuk pemakaian dalam ruangan, dan reproduksi warnanya mengesankan.
Speaker-nya juga layak dipuji. Berkat Snapdragon Sound, volumenya kencang tanpa distorsi berarti — cukup untuk mengisi satu kamar asrama saat menonton atau memutar musik. Kombinasi layar dan audio ini membuat Zenbook 14 nyaman dipakai kerja siang dan binge watching malam.
Chipset Snapdragon X mencatat skor Geekbench 2.181 single-core dan 10.676 multi-core. Angka single-core-nya memang kalah dari MacBook Neo dengan A18 Pro yang menembus 3.535, tapi multi-core-nya justru unggul.
Dalam praktik, aplikasi terbuka cepat, perpindahan antar tab lancar, dan editing foto ringan di Photoshop atau CapCut masih bisa dijalankan. Untuk pemrosesan AI lokal seperti transkripsi kuliah, varian 16GB terasa jauh lebih siap.
Hasil pengujian baterai menunjukkan 13 jam 38 menit — sedikit di atas MacBook Neo (13:26) meski masih di bawah Dell XPS 13 (14:26). Dengan angka ini, mahasiswa bisa meninggalkan charger di kos dan tetap aman seharian di kampus.
Inilah catatan paling serius. Saat RAM dibatasi ke 8GB, performa langsung terasa sesak begitu beban bertambah. Saya bisa menjalankan Spotify, satu tab Google Docs untuk esai, dan beberapa tab riset — sampai tab ketujuh mulai muncul stuttering.
Begitu AnythingLLM dibuka, sistem membeku dan memproses tugas satu per satu. Skenario 20+ tab Chrome yang jadi kebiasaan mahasiswa jelas jadi masalah di kapasitas 8GB. Windows 11 mengelola memori dengan cara berbeda dari macOS, dan dampaknya terasa langsung di kecepatan buka aplikasi.
Lompatan dari 8GB ke 16GB plus tambahan SSD menambah £400 — sekitar Rp 8 juta. Di titik itu, harganya sudah memasuki wilayah M5 MacBook Air. Masalahnya, MacBook Air menawarkan bodi aluminium dan chip Apple Silicon yang performanya belum bisa disaingi Snapdragon X.
Zenbook 14 juga belum diumumkan kapan masuk pasar Indonesia dan berapa harganya. Di AS, harga diperkirakan mulai USD 799 atau sekitar Rp 12,8 juta.
Zenbook 14 paling masuk akal untuk mahasiswa yang beban utamanya menulis esai dan riset web ringan, dengan sedikit penggunaan AI lokal. Kalau Anda tipe yang membuka banyak tab sekaligus atau menjalankan berbagai aplikasi bersamaan, varian 8GB akan cepat terasa kurang.
Untuk kebutuhan itu, varian 16GB jadi pilihan yang lebih aman — asal Anda siap merogoh kocek lebih dalam. Sebagai laptop entry-level, Zenbook 14 tetap menawarkan nilai solid di varian dasarnya, terutama berkat layar OLED dan bobot ringannya. Tapi selama Microsoft belum memperbaiki efisiensi memori Windows 11, rekomendasi untuk versi 8GB harus dibarengi catatan tebal.