PAPUA — Langkah cepat diambil Pertamina Patra Niaga dengan mengalihkan sumber pasokan. Sebanyak 15 unit truk tangki dikerahkan khusus dari Surabaya untuk menyuplai SPBU di wilayah Jember.
Kelangkaan BBM beberapa hari sebelumnya dipicu kemacetan di sekitar Integrated Terminal (IT) Tanjung Wangi, Banyuwangi. Arus kendaraan logistik yang hendak menyeberang dari Pelabuhan ASDP Ketapang ke Gilimanuk menumpuk, sehingga akses truk BBM ikut tersendat.
Dampaknya terasa pada waktu tempuh distribusi. Wahyudi menyebut pengiriman BBM ke Jember yang biasanya hanya 6-8 jam melar hingga 12 jam lebih untuk sekali jalan.
"Kalau normal distribusi BBM ke wilayah Jember hanya 6-8 jam. Tapi karena ada kemacetan menjadi 12 jam ke atas sekali jalan," ujarnya.
Karena itu, Pertamina Patra Niaga memutuskan memindahkan titik pasokan Jember dari IT Tanjung Wangi ke IT Surabaya. Skema ini yang membuat pengiriman kembali lancar dalam hitungan hari.
Wahyudi menuturkan antrean kendaraan yang mengisi BBM kini tidak lagi sepanjang beberapa hari lalu. Meski begitu, ia mengimbau masyarakat mengonsumsi BBM secara bijak dan tidak memaksakan diri mengantre saat terjadi penumpukan.
"Kami pastikan akan terus monitor untuk memperlancar distribusi BBM di Kabupaten Jember," kata Wahyudi menambahkan.
Pemantauan berkelanjutan diperlukan mengingat Jember bukan wilayah dengan cadangan penyangga besar. Ketergantungan pada pasokan dari Banyuwangi dan Surabaya membuat gangguan di jalur logistik langsung terasa ke konsumen.
Insiden ini menyoroti kerentanan jalur distribusi energi di kawasan timur Jawa. Kemacetan di Ketapang bukan kali pertama terjadi, terutama saat arus mudik atau lonjakan kendaraan logistik menuju Bali.
Bagi warga Jember, normalnya pasokan berarti aktivitas harian kembali berjalan tanpa antrean panjang. Bagi Pertamina Patra Niaga sebagai operator hilir, kejadian ini menjadi ujian kesiapan skema pengalihan pasokan antar-terminal saat jalur utama terganggu.