PAPUA — NASA berhasil menjalin komunikasi dengan wahana robotik LINK, bagian dari misi Swift Boost yang diluncurkan pada 3 Juli 2024 pukul 04.36 waktu AS bagian timur. Peluncuran sempat tertunda beberapa kali sebelum akhirnya lepas landas dari Kepulauan Marshall. LINK kini telah menyala dan dalam proses pengecekan kesehatan sistem oleh tim Katalyst.
Peluncuran Tak Biasa dari Pesawat di Ketinggian 40.000 Kaki
Berbeda dengan roket konvensional yang lepas landas dari darat, LINK menumpang roket Northrop Grumman Pegasus XL yang digantung di bawah pesawat bernama Stargazer. Pesawat lepas landas dari Atol Kwajalein, Marshall Islands, lalu melepaskan roket di ketinggian sekitar 40.000 kaki.
Setelah jatuh bebas beberapa detik, mesin roket menyala dan mendorong LINK ke luar angkasa. Metode peluncuran udara ini lebih fleksibel dan hemat biaya dibanding peluncuran vertikal biasa.
Apa yang Akan Dilakukan LINK di Luar Angkasa?
Setelah lolos uji kesehatan sistem dalam beberapa pekan ke depan, LINK akan bergerak menuju Neil Gehrels Swift Observatory. Tugas utama robot ini adalah merapat ke teleskop menggunakan tiga lengan robotiknya, lalu mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi.
Target ketinggian akhir sekitar 595 kilometer (370 mil), yang diperkirakan bisa memperpanjang usia operasional Swift hingga satu dekade. Proses pendorongan diperkirakan memakan waktu 10 hingga 12 minggu.
Mengapa Teleskop Swift Mendadak Perlu Diselamatkan?
Semua wahana antariksa pada akhirnya akan kehilangan ketinggian orbit akibat tarikan gravitasi Bumi. Namun, aktivitas Matahari yang meningkat belakangan ini mempercepat proses penurunan orbit Swift secara signifikan.
Brad Cenko, peneliti utama Swift, menjelaskan bahwa teleskop ini sudah mengamati ledakan sinar gamma selama lebih dari dua dekade. "Semburan sinar gamma adalah kilatan energi tinggi berumur pendek yang melepaskan lebih banyak energi dalam beberapa detik daripada yang dihasilkan Matahari seumur hidupnya," kata Cenko.
Data dari Swift juga mengonfirmasi bahwa elemen terberat di tabel periodik—termasuk emas dan platinum di perhiasan kita—terbentuk dalam peristiwa kosmik ini. Kini Swift berfungsi ganda sebagai "responden pertama" yang mengumpulkan informasi kritis saat terjadi peristiwa kosmik mendadak.
Nasib Teleskop Tanpa Bantuan LINK
Tanpa intervensi LINK, orbit Swift akan terus memburuk hingga akhirnya teleskop masuk kembali ke atmosfer Bumi dan hancur. Meskipun semua wahana antariksa pada akhirnya akan jatuh, laju penurunan Swift yang lebih cepat dari perkiraan membuat misi penyelamatan ini menjadi prioritas.
Keberhasilan misi Swift Boost tidak hanya menyelamatkan satu teleskop, tapi juga melanjutkan penelitian tentang asal-usul alam semesta yang telah berlangsung sejak 2004. Bagi penggemar astronomi dan sains antariksa, ini kabar baik—Swift masih akan mengirim data berharga setidaknya sepuluh tahun lagi.