JAYAPURA — China menegaskan tidak akan tinggal diam jika kepentingannya di Pasifik terganggu. Peringatan itu menyusul pengumuman aliansi militer baru antara Australia dan Fiji.
Pakta bernama Aliansi Samudra Perdamaian itu menjadikan Fiji sebagai sekutu resmi keempat Australia. Sebelumnya, Canberra telah memiliki perjanjian serupa dengan beberapa negara lain.
Dalam pernyataan bersama, kedua negara berjanji “bertindak untuk menghadapi bahaya bersama, sesuai dengan proses domestik masing-masing” jika salah satu pihak menghadapi serangan militer. Rabuka menyatakan terbuka bagi negara-negara Pasifik lain untuk bergabung, meskipun Australia disebut hanya akan fokus pada negara yang memiliki militer tetap.
Reaksi Dingin Beijing: “Jangan Targetkan Pihak Ketiga”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, langsung mengeluarkan peringatan keras pada malam yang sama. “Kami tidak terlibat dalam persaingan geopolitik atau mencari permainan politik yang mementingkan diri sendiri,” katanya dalam konferensi pers.
Mao menambahkan, pihaknya berharap “negara yang bersangkutan akan benar-benar menghormati kemerdekaan negara-negara kepulauan Pasifik, fokus pada keberlanjutan mereka seperti pembangunan ekonomi, dan menghindari penargetan pihak ketiga mana pun atau merugikan kepentingan pihak ketiga mana pun.”
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah uji coba rudal balistik China di Pasifik pada hari yang sama. Langkah itu dinilai sebagai sinyal kekuatan di tengah dinamika keamanan kawasan yang memanas.
Fiji Yakin China Tak Akan Bereaksi Keras
Rabuka mengecilkan kemungkinan reaksi negatif dari Beijing. Ia mengatakan kepada wartawan di Suva bahwa ia tidak mengharapkan “penolakan keras” dan percaya bahwa China justru akan “menyambut” kesepakatan yang dicapai Fiji dan Australia.
Namun, seorang sumber pemerintah Fiji yang dikutip ABC mengatakan mereka memperkirakan China akan “tidak senang” dengan perjanjian tersebut. Meski begitu, Fiji tetap bertekad melanjutkan pakta itu demi kepentingan keamanan nasional.
Selandia Baru Dukung, Solomon Islands Masih Wait and See
Selandia Baru menyambut baik aliansi baru ini, meskipun belum memulai diskusi formal untuk bergabung. “Sebagaimana disepakati oleh para pemimpin Pasifik, keamanan Pasifik harus dipimpin oleh negara-negara Pasifik sendiri. Aliansi ini memperkuat hal tersebut,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Selandia Baru.
Sementara itu, Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Matthew Wale, dijadwalkan bertemu Albanese di Honiara pada Selasa (7/7/2026) bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan. Wale sebelumnya mendorong gagasan pakta keamanan regional versinya sendiri, namun belum jelas apakah visi tersebut akan sejalan dengan Aliansi Samudra Perdamaian. Australia dan Kepulauan Solomon bulan lalu sepakat memulai negosiasi perjanjian bilateral baru, yang ditargetkan rampung sebelum akhir tahun.