PAPUA — Berdasarkan data Refinitiv, apresiasi pagi ini melanjutkan performa solid rupiah pada dua sesi sebelumnya. Kamis (6/8/2026) lalu, rupiah ditutup menguat 0,08 persen ke Rp17.910 per dolar AS, setelah pada Rabu berhasil melesat 0,50 persen. Pergerakan ini kontras dengan indeks dolar AS (DXY) yang justru naik 0,03 persen ke level 99,956 pada saat yang sama.
Ketahanan Ekonomi Jadi Katalis Utama Penguatan
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai stabilitas rupiah tidak lepas dari performa ekonomi nasional yang melampaui proyeksi awal. Capaian tersebut dinilai mencerminkan ketahanan aktivitas domestik yang solid di tengah gejolak ekonomi global.
“Perolehan tersebut dianggap mencerminkan ketahanan aktivitas domestik yang solid di tengah tantangan ekonomi global,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Faktor Eksternal Masih Membayangi Pergerakan Kurs
Meski rupiah perkasa, tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. DXY yang masih bertahan di kisaran 99,9 menunjukkan permintaan terhadap mata uang safe haven Amerika Serikat belum surut, terutama di tengah ketidakpastian arah suku bunga acuan The Fed.
Namun, fundamental domestik yang solid terbukti mampu menjadi tameng. Para pelaku pasar mulai melirik aset berdenominasi rupiah seiring membaiknya data ekonomi nasional, yang pada akhirnya menopang laju mata uang Garuda di pasar spot.
Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Dengan tren penguatan yang konsisten, level psikologis Rp17.900 per dolar AS menjadi ujian berikutnya bagi rupiah. Jika tekanan dolar AS tidak meningkat signifikan, bukan tidak mungkin mata uang Garuda akan menguji level tersebut pada sesi perdagangan berikutnya.
Kendati demikian, volatilitas pasar keuangan global tetap menjadi variabel yang perlu diwaspadai. Setiap data ekonomi AS yang dirilis berpotensi mengubah arah pergerakan dolar secara tiba-tiba, yang otomatis berdampak pada nilai tukar rupiah.
Investasi mengandung risiko.