PAPUA — PT Asuransi Astra Buana lewat produk Garda Oto membeberkan alasan di balik potensi premi kendaraan listrik yang lebih mahal. Penjelasan ini disampaikan dalam Media Conference bertajuk "Transformation Beyond The Screen" di Jakarta, Jumat (11/9).
Mulia K.B. Siregar, Chief Technical Officer Asuransi Astra, menyebut ada dua faktor yang membuat risiko EV berbeda dari mobil konvensional. Keduanya berkaitan langsung dengan struktur biaya di bengkel dan pasar suku cadang.
Biaya Jasa Pengerjaan EV Lebih Tinggi
Faktor pertama datang dari sisi jasa perbaikan. Menurut Mulia, tarif pengerjaan bodi dan reparasi EV relatif lebih mahal dibanding mobil bermesin pembakaran.
"EV itu ada, setidaknya ada dua faktor. Satu, dari jasanya, jasa pengerjaannya itu relatif lebih mahal daripada mobil combustion engine," ujarnya dalam konferensi pers tersebut.
Tingginya biaya jasa ini tidak lepas dari kebutuhan peralatan khusus, tenaga terlatih, dan prosedur keselamatan yang lebih ketat saat menangani komponen bertegangan tinggi.
Suku Cadang EV Masih Mahal di Pasaran
Faktor kedua bersumber dari harga komponen pengganti. Mulia menyatakan suku cadang EV saat ini masih lebih mahal dibandingkan part mobil konvensional.
"Yang kedua, dari parts-nya. Parts-nya sendiri pun lebih mahal daripada combustion engine," kata dia.
Struktur biaya ganda inilah yang membuat perhitungan premi EV tidak bisa disamakan dengan mobil bensin. Kedua komponen biaya tersebut menjadi dasar penentuan tarif yang lebih tinggi.
Beda Merek, Beda Profil Risiko
Asuransi Astra juga menegaskan tingkat risiko kendaraan listrik tidak bisa dipukul rata. Setiap produsen EV punya karakteristik berbeda, mulai dari desain baterai, ketersediaan jaringan servis, hingga pola klaim yang tercatat.
"Dan studi kita sementara ini bahwa beda merek bisa beda risiko," tutup Mulia.
Perbedaan profil risiko antarmerek ini menuntut kecermatan ekstra dalam perancangan tarif. Perusahaan membutuhkan basis data statistik yang jelas sebelum menetapkan premi untuk tiap model.
Kajian Internal Masih Berjalan
Di tengah gejolak industri dan ketidakstabilan ekonomi pasar otomotif nasional, lini retail Asuransi Astra mencatatkan pertumbuhan positif hingga semester pertama tahun ini. Bisnis sepeda motor dan kendaraan bermotor lewat Garda Oto masih menjadi salah satu penopang utama kinerja tersebut.
Untuk mengantisipasi penetrasi EV yang terus naik, perusahaan saat ini tengah melakukan penyesuaian dan kajian mendalam secara internal. Langkah ini diambil untuk menentukan rancangan tarif premi yang paling tepat dan seimbang bagi pengguna EV di Indonesia.
Bagi calon pemilik mobil listrik, implikasinya cukup jelas: siapkan anggaran asuransi yang lebih besar dibanding mobil bensin di kelas harga serupa. Besaran pastinya masih menunggu hasil kajian Garda Oto dan dinamika pasar EV nasional.