PAPUA — Persoalan perebutan lahan antara kebutuhan energi dan pangan semakin nyata di Indonesia. Panel surya yang dipasang statis di atas area pertanian kerap menciptakan bayangan permanen, membuat tanaman di bawahnya kekurangan cahaya untuk berfotosintesis. Alhasil, petani sering dihadapkan pada pilihan sulit: membiarkan lahannya tertutup modul surya atau mempertahankan hasil panen.
Tim mahasiswa ITPLN mencoba memecah kebuntuan itu lewat sistem kontrol adaptif. Ketua tim Andi Iftitah Baitul Qiswa bersama anggota Umar Wanto, Tara Syauqina, Cynthia Calista Paramitha, dan Elma Erista Sinambela mengembangkan panel surya yang bisa bergerak dinamis—tidak hanya mengejar matahari, tetapi juga "mengalah" saat tanaman di bawahnya butuh lebih banyak cahaya.
Panel Surya yang Tahu Kapan Harus Minggir
Umar Wanto, mahasiswa S1 Teknik Elektro ITPLN asal Kepulauan Natuna, menjelaskan sistem ini mengandalkan Application-Aware Adaptive Control Strategies. Smart solar tracker tipe single-axis maupun dual-axis digerakkan berdasarkan data cuaca real-time dan algoritma machine learning.
"Yang kami coba selesaikan adalah dilema pemanfaatan lahan, apakah kita harus memilih listrik atau pangan. Kami berusaha menyelaraskan keduanya dengan mengatur sudut panel berdasarkan kebutuhan energi dan kebutuhan cahaya tanaman," kata Umar, Rabu (12/8).
Kecerdasan buatan di sini berperan sebagai pengambil keputusan. Sistem tidak sekadar menghitung posisi panel yang paling optimal menangkap sinar matahari, tetapi juga memperhitungkan Photosynthetically Active Radiation (PAR)—rentang cahaya yang dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis. Ketika produksi listrik perlu dimaksimalkan, panel bergerak menghadap matahari. Begitu tanaman membutuhkan lebih banyak cahaya, posisi panel diubah agar celah masuknya sinar lebih lebar.
Menyasar Ketahanan Pangan dan Energi Sekaligus
Riset berjudul "Adaptive Control Strategies for Optimizing Power Output of Agrivoltaic Systems Under Variable Weather Conditions" ini tidak berhenti pada efisiensi teknis. Konsep dual-objective yang diusung diharapkan mampu menaikkan Land Equivalent Ratio (LER)—ukuran seberapa besar satu bidang lahan bisa memberikan manfaat ganda dibandingkan jika digunakan untuk satu tujuan saja.
Tim juga mengarahkan riset ini untuk mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 tentang tanpa kelaparan, SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, serta SDG 13 mengenai penanganan perubahan iklim. Di tengah tekanan perubahan iklim dan menyusutnya lahan produktif, pendekatan ini dinilai relevan untuk ketahanan pangan dan energi nasional.
Di IIICe 2026 Malaysia, karya ITPLN bersaing dengan 139 peserta lain secara hybrid. Lawan-lawan mereka datang dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), UIN Walisongo, President University, UPN Veteran Jakarta, Universiti Sultan Zainal Abidin, hingga Universiti Teknologi MARA. Di bawah bimbingan dosen Hasna Satya Dini, ST., MT., tim berhasil meyakinkan dewan juri lewat kebaruan riset dan landasan teori yang kuat.
"Medali emas ini menjadi pengakuan atas kerja keras kami sekaligus motivasi besar bagi tim untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengembangkan riset lanjutan agar teknologi ini dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas," tegas Umar.
Ke depan, tim berencana melanjutkan riset ini ke tahap implementasi lapangan. Jika berhasil, teknologi ini bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah dengan keterbatasan lahan, sekaligus mempercepat transisi energi tanpa mengorbankan sektor pertanian.