JAYAPURA — Praktik penangkapan ikan dengan bom rakitan yang terbuat dari bubuk mesiu peninggalan Perang Dunia II masih menjadi ancaman serius di perairan Papua. Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Narlince Wamuar secara khusus menyoroti kebiasaan nelayan di wilayah adat Tabi dan Saiteri yang kerap menggunakan alat berbahaya tersebut.
Narlince menegaskan bahwa dampak penggunaan bom tidak hanya merusak ekosistem bawah laut, tetapi juga membahayakan nyawa nelayan itu sendiri. "Para nelayan diharapkan tidak menangkap ikan dengan menggunakan bom karena dampaknya selain merusak habitat dan terumbu karang serta membahayakan jiwa si nelayan," katanya di Jayapura, Jumat.
Bom Peninggalan Perang Dunia II dan Bahaya Dopis
Menurut laporan yang diterima MRP, sebagian besar bom yang digunakan nelayan merupakan sisa-sisa Perang Dunia II yang masih tersebar di sejumlah wilayah Papua. Bom-bom yang ditemukan, baik di dasar laut maupun daratan, kemudian dibawa ke permukaan untuk dibongkar dan diambil bubuk mesiumnya.
Bubuk mesiu tersebut lantas diisi ke dalam botol dan dikenal dengan sebutan "dopis". Proses pembongkaran dan perakitan inilah yang dinilai sangat rentan memicu ledakan. "Proses itu sering menimbulkan bahaya karena dapat menyebabkan korban jiwa seperti yang terjadi di Biak beberapa waktu lalu yang menewaskan sembilan orang," tegas Narlince.
Pemkot Jayapura Intensifkan Penyuluhan ke Nelayan
Menanggapi persoalan ini, Wakil Wali Kota Jayapura Rustam Saru menyatakan bahwa pemerintah kota sebenarnya telah berulang kali mengingatkan nelayan melalui Dinas Perikanan dan Kelautan. Penyuluhan rutin diberikan untuk menekan angka pelanggaran dan meminimalisir risiko kecelakaan kerja di laut.
"Para nelayan diharapkan saat menangkap ikan menggunakan peralatan yang memang untuk menangkap ikan dan bukan bom atau dopis," harap Rustam Saru. Pihaknya menekankan bahwa penyuluhan ini penting mengingat dampak ganda yang ditimbulkan, baik dari sisi keselamatan jiwa maupun kelestarian biota laut di perairan Kota Jayapura dan sekitarnya.
Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan menjadi kunci menjaga keberlanjutan ekosistem laut Papua yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Nelayan diimbau beralih ke jaring atau pancing yang lebih aman dan tidak merusak.