JAYAPURA — Enam spesies burung Cenderawasih dapat diamati dari rumah pohon di kawasan ekowisata Kampung Yenggu Baru, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua. Pengunjung yang ingin menikmati keindahan burung khas Papua itu harus berjalan kaki delapan jam menyusuri hutan lindung sebelum tiba di lokasi pengamatan.
Kawasan seluas 16 hektare ini dikelola Alex Waisimon, anak adat Suku Waisimon. Di lahan tersebut terdapat dua kampung, yakni Yenggu Baru dan Yenggu Lama, dengan sejumlah objek wisata seperti rumah pohon, pemantauan Burung Mambruk dan Kasuari di Yenggu Lama, serta lokasi pengamatan Cenderawasih.
Dari Gagasan 2011 hingga Warga Mulai Paham Ekowisata
Ide menjadikan Kampung Yenggu Baru sebagai wilayah ekowisata sebenarnya sudah dicetuskan Alex Waisimon sejak 2011. Namun saat itu, warga belum memahami konsep tersebut dan hanya fokus berkebun serta beternak ayam.
"Kitorang belum paham apa itu ekowisata dan pengamatan burung, sehingga kami tidak tertarik dan tidak bikin pondok maupun pengembangan wisata. Hanya konsentrasi bikin kebun dan piara ayam," kata Marthen Waisimon, kakak kandung Alex Waisimon, di pondok pengamatan burung Kampung Yenggu Baru, Sabtu (15/8/2026).
Marthen yang juga mantan Kepala Kampung Yenggu Baru mengakui gagasan Alex awalnya dianggap angin lalu. Baru setelah Alex membangun objek wisata pengamatan burung di Bukit Issoy, Rhepang Muaib, warga mulai membuka mata.
Homestay dan Waktu Terbaik Melihat Burung Surga
Di dekat rumah pohon Kampung Yenggu Baru tersedia homestay bagi pengunjung. Pukul 05.00 Waktu Papua, wisatawan sudah bisa mengamati burung Cenderawasih yang sedang bermain.
"Sore hari bisa melihat bagaimana matahari terbenam," ujar Marthen Waisimon. Pemandangan matahari terbenam di kaki Gunung Lembah Grime bisa dinikmati dari atas pondok maupun ruang pertemuan.
Kini telah terjalin kerja sama antara ekowisata Kampung Yenggu Baru dan Rhepang Muaib. Turis dan peneliti burung yang datang biasanya singgah di Rhepang Muaib terlebih dahulu sebelum menuju pondok di Kampung Yenggu Baru.
Enam Spesies Cenderawasih di Lembah Grime
Kawasan hutan ekowisata Kampung Yenggu Baru dan Yenggu Lama menjadi habitat enam spesies Cenderawasih. Beberapa di antaranya adalah Cenderawasih Mati Kawat (Seleucidis melanoleucus) yang memiliki bulu menyerupai kawat di bagian ekor, Cenderawasih Raja (Cicinnurus regius) dengan bulu dominan merah menyala, serta Cenderawasih Belah Rotan (Cicinnurus magnificus) yang memiliki warna bulu sayap kuning keemasan kontras.
Selain itu ada Toowa Cemerlang (Ptiloris magnificus) dengan warna hitam beludru berpadu biru-hijau metalik di dada, dan Cenderawasih Paruh Sabit Paruh Putih (Drepanornis albertisi) yang memiliki bentuk paruh melengkung tajam mirip sabit.
Larangan Berburu Demi Kelestarian Satwa
Di kawasan ekowisata ini, berburu atau membunuh hewan dilarang keras karena satwa di sana dilindungi. Alex Waisimon melarang warga kampung berburu dan memasang jerat, mulai dari babi hutan sampai tikus tanah, demi menjaga kekayaan alam, flora, dan fauna.
"Semua hewan dan burung bebas hidup di hutan sehingga kita hanya hidup dari memelihara ayam dan kebun," kata Marthen.
Jurnalis Jubi, Engel Wally, mengisahkan pernah bersama Alex Waisimon membongkar jerat tikus tanah dan babi hutan selama menelusuri hutan Nimboran. Alex juga menegur orang yang sedang menebang kayu dengan mesin gergaji di kawasan tersebut.