Pencarian

Masyarakat Adat Aborigin dan Kanak Jalin Kerja Sama Lindungi Dugong, Populasi di Kaledonia Baru Tersisa di Bawah 900 Ekor

Selasa, 27 Oktober 2026 • 15:31:31 WIB
Masyarakat Adat Aborigin dan Kanak Jalin Kerja Sama Lindungi Dugong, Populasi di Kaledonia Baru Tersisa di Bawah 900 Ekor
Senator adat Elvys Gourou menyebut dugong sebagai hewan totem yang mempertemukan kepentingan pelestarian dengan tradisi leluhur.

JAYAPURA — Senator adat wilayah Ajie-Aro, Elvys Gourou, menyebut kerja sama ini berlandaskan ikatan budaya yang menyatukan kedua masyarakat. Menurutnya, dugong menjadi hewan totem yang mempertemukan kepentingan pelestarian dengan tradisi leluhur.

Delegasi Australia disambut di Senat Adat untuk membahas proyek bersama pelestarian dugong sekaligus berbagi pengetahuan tradisional. Pertemuan di Noumea menjadi tindak lanjut dari diskusi yang digelar di Queensland pada September lalu.

Mengapa Dugong Menjadi Simbol Persatuan Dua Masyarakat Adat

Dugong menempati posisi sentral dalam pertukaran budaya antara masyarakat Kanak dan Aborigin. Hewan laut ini tidak sekadar sumber pangan, tetapi bagian dari sistem spiritual dan kekerabatan yang dijaga ribuan tahun.

"Idealnya adalah bersatu di sekitar hewan totem yang terancam punah. Kita tahu bahwa kita masing-masing sedang berjuang dalam pertempuran nyata kita sendiri, dan itulah yang menyatukan kita," kata Elvys Gourou, senator adat wilayah Ajie-Aro.

Gourou menambahkan bahwa transfer pengetahuan terjadi pada tingkat kesadaran. Strategi lapangan dan cara komunikasi menjadi bagian yang dibahas agar publik memahami kondisi kesehatan dugong.

"Dan bagaimana ini dapat diteruskan kepada generasi muda? Kami ingin menemukan strategi yang tepat agar orang-orang dapat memahami bahwa situasinya serius dan hewan tersebut harus diselamatkan," ujarnya.

Populasi Anjlok 80 Persen dalam Dua Dekade

Badan Keanekaragaman Hayati Kaledonia Baru mencatat populasi dugong di perairan setempat diperkirakan hampir 2.000 individu pada tahun 2000-an. Pada 2018, angka itu merosot mendekati 450 individu.

Penurunan sekitar 80 persen tersebut menjadikan dugong salah satu spesies yang berkontribusi pada penetapan laguna Kaledonia Baru sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Status terancam punah juga tercatat dalam Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

Ancaman utama bagi spesies ini meliputi perburuan liar, penangkapan tidak disengaja, tabrakan dengan kapal, dan degradasi habitat. Di laguna Kaledonia Baru, populasinya tersisa kurang dari 900 ekor dewasa.

Belajar dari Model Pengelolaan Australia

Komunitas Aborigin dan Melanesia Selat Torres di Australia telah mulai mengorganisir diri menjadi korporasi untuk memfasilitasi pengelolaan populasi dugong di perairan mereka. Salah satu contohnya adalah Girringun Society yang mengelola wilayah laut untuk enam komunitas di Queensland.

"Karena kami mandiri, hal ini memungkinkan kami, dengan bantuan para ilmuwan dan data mereka, untuk membuat keputusan terbaik mengenai pengelolaan spesies tersebut," kata Jade Pryor, koordinator di Girringun Society.

Keunggulan lain organisasi masyarakat adat Australia adalah pemilihan petugas pemantau kawasan lindung langsung dari komunitas bersangkutan. Cara ini memastikan pemahaman lebih baik terhadap realitas lingkungan setempat.

Jayden Crump, penjaga hutan dari Mandubarra Society, menyebut dugong bukan hewan totem komunitasnya. Namun karena jumlahnya menurun drastis, masyarakat memutuskan menjadikannya totem bagi kaum muda dan melarang perburuan terhadapnya.

Perubahan mentalitas itu nyata. Sebelumnya, di wilayah Crump di Australia, dugong diburu untuk diambil dagingnya.

Ambisi Perubahan Regulasi Lingkungan Kaledonia Baru

Kerja sama ini memiliki ambisi lebih luas dari sekadar perlindungan dugong. Dalam jangka panjang, kolaborasi tersebut diharapkan berkontribusi pada evolusi peraturan lingkungan di Kaledonia Baru.

Gourou mencontohkan model Australia yang merekrut petugas perlindungan satwa liar dari masyarakat setempat. Ia menyinggung insiden di Kone, ketika petugas kehutanan Provinsi Utara dan polisi setempat menjadi sasaran tembakan saat patroli bersama melawan perburuan liar pada Juni 2023.

"Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu ke mana mereka akan pergi, dan penduduk setempat tidak siap menghadapi hal itu. Tujuannya adalah agar masyarakat setempat dapat menemukan kata-kata dan cara untuk menerapkan larangan dan peraturan," jelas Gourou.

Langkah berikutnya adalah menjadikan pertukaran ini berkelanjutan melalui pelatihan dan upaya mewariskan pengetahuan leluhur. Harapannya, pengetahuan tersebut lebih sesuai dengan tantangan masa kini.

Follow jayapuraonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jubi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks