PAPUA — Proses pembongkaran makam berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB dan melibatkan kolaborasi antara Polda Metro Jaya, Polda Jawa Tengah, serta Polresta Banyumas. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan kegiatan ini merupakan bagian dari penyidikan untuk mencari bukti medis guna memastikan sebab kematian almarhum.
Budi merinci ekshumasi berjalan melalui tiga tahapan: pembongkaran makam, pemeriksaan luar untuk verifikasi identitas jenazah, dan pemeriksaan bagian dalam. Tim yang diterjunkan tidak hanya dokter spesialis forensik, tetapi juga ahli laboratorium forensik, toksikologi, DNA, serta histopatologi anatomi.
Ketua Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI) Brigjen Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti menjelaskan keahlian beragam itu diperlukan agar hasil pemeriksaan memiliki dasar ilmiah yang kuat. "Selain dokter spesialis forensik dan medikolegal, kami melibatkan ahli laboratorium forensik, toksikologi, DNA, serta histopatologi anatomi. Kami bekerja secara menyeluruh dan komprehensif berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laboratorium," ujarnya.
Tim forensik tidak hanya fokus pada jasad. Mereka turut memeriksa kondisi makam, jenis dan kontur tanah, ukuran, serta mengambil sampel tanah di sekitar lokasi. Sampel dari jenazah juga akan dianalisis di laboratorium untuk menentukan apakah kematian Sutrimo bersifat alamiah atau tidak.
"Kami belum dapat langsung menyimpulkan hasil pemeriksaan karena sampel yang diambil masih harus dianalisis di laboratorium. Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu menjelaskan apakah kematian tersebut bersifat alamiah atau tidak alamiah," kata Hastry.
Di tengah proses hukum yang berjalan, keluarga Sutrimo memilih tidak hadir langsung di lokasi pembongkaran makam. Kuasa hukum keluarga, Aan Rohaeni, menyatakan dirinya ditunjuk sebagai perwakilan keluarga dalam prosesi tersebut.
"Memang pihak keluarga memutuskan untuk kehadirannya hanya diwakili oleh saya. Alasan keluarga tidak ikut menyaksikan, nggak bakal kuat," kata Aan saat ditemui wartawan di kompleks makam, Selasa (11/8) sore.
Ia menambahkan, "Saya juga seorang orang tua. Lihat anak jatuh kepleset aja kan kita gemeter. Apalagi posisi kayak gini, pasti sangat bukan hal yang mudah."
Sutrimo ditemukan tewas di depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sejak awal, statusnya sebagai kepala rumah tangga mantan Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah membuat kasus ini menarik perhatian publik.
Belakangan, pihak keluarga membenarkan bahwa Sutrimo memang bekerja untuk Febrie. Namun, mereka mengaku tidak mengetahui secara detail pekerjaan yang dijalani Sutrimo selama bekerja untuk pria tersebut. Hasil ekshumasi diharapkan menjadi titik terang dalam penyidikan yang tengah berjalan.