PAPUA — Serangan terbaru ini menandai eskalasi signifikan setelah Yaman menikmati jeda relatif sejak April 2022. Kelompok Houthi, yang menguasai ibu kota Sanaa sejak September 2014, kembali melancarkan agresi ke wilayah yang dikuasai pemerintah, memicu kekhawatiran akan kembalinya konflik skala penuh yang telah berlangsung hampir 12 tahun.
Kantor media pemerintah Marib menyatakan sedikitnya enam rudal balistik dan empat pesawat nirawak (drone) menghantam lingkungan pemukiman pada Sabtu malam. Serangan tersebut melukai empat warga dan menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah serta infrastruktur sipil. Sementara itu, Direktur Bandara al-Makha, Abdulmalik al-Sharabi, mengonfirmasi empat orang tewas dan delapan lainnya luka-luka dalam serangan yang terjadi di luar kota dan jalan utama.
Militer Yaman yang loyal kepada pemerintah mengklaim telah melancarkan 181 operasi terhadap posisi-posisi Houthi di sejumlah provinsi pada Sabtu dan Minggu. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan dan melukai puluhan anggota kelompok Houthi, mencakup front di al-Jawf, al-Dhalea, dan Taiz.
Houthi mengakui empat anggotanya tewas dalam pertempuran tersebut. Namun, kelompok itu tidak merinci lebih lanjut keadaan di sekitar kematian mereka. Klaim dari kedua belah pihak yang bertikai ini belum dapat diverifikasi secara independen karena akses jurnalis ke wilayah konflik sangat dibatasi.
Serangan kali ini memperparah situasi di al-Makha, kota pelabuhan strategis di pesisir Laut Merah. Abdulmalik al-Sharabi menyatakan operasi pelabuhan telah dihentikan sementara selama beberapa hari terakhir akibat rentetan serangan Houthi yang menyasar fasilitas tersebut. Penghentian aktivitas ini berpotensi mengganggu jalur logistik dan pasokan barang ke daerah-daerah yang dikuasai pemerintah.
Serangan ke al-Makha terjadi hanya beberapa hari setelah Houthi melancarkan serangan mematikan ke kamp-kamp militer di Marib dan Hadramout pada awal bulan ini. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 30 tentara pemerintah, menjadikannya episode paling mematikan dalam konflik Yaman dalam beberapa tahun terakhir.
Eskalasi ini menghancurkan harapan akan perpanjangan gencatan senjata yang telah meredam pertempuran sejak April 2022. Meskipun tidak ada kesepakatan damai formal yang ditandatangani, jeda tersebut telah membawa ketenangan relatif bagi warga sipil yang menderita akibat perang berkepanjangan.
Serangan balasan yang dilakukan militer pemerintah menunjukkan bahwa kedua pihak masih memiliki kapasitas dan keinginan untuk bertempur. Dengan gagalnya upaya diplomatik yang dipimpin PBB untuk memperpanjang gencatan senjata, komunitas internasional kini menghadapi risiko nyata kembalinya konflik terbuka yang dapat memperdalam krisis kemanusiaan di Yaman, salah satu yang terburuk di dunia.