JAYAPURA — Pemerintah Papua Nugini menegaskan produksi dan volume ekspor LNG tidak akan mengalami dampak material setelah Taiwan menangguhkan pembelian di pasar spot. Menteri Perminyakan dan Gas PNG Jimmy Maladina menyatakan keputusan Taiwan hanya menyangkut pembelian diskresioner, sementara kontrak jangka panjang yang mengikat tetap dihormati penuh oleh Taipei.
"Laporan tersebut menunjukkan bahwa keputusan Taiwan hanya berkaitan dengan pembelian pasar spot diskresioner. Namun, Taiwan akan terus menghormati perjanjian pasokan LNG jangka panjangnya dengan Papua Nugini hingga tahun 2030," ujar Maladina, Selasa (22/7/2025).
Kontrak 1,2 Juta Ton per Tahun Tidak Berubah
Berdasarkan laporan laman oilprice.com, Taiwan menghentikan pembelian sekitar 500.000 metrik ton LNG dari PNG setiap enam bulan. Nilai penghentian pembelian spot ini diperkirakan menghilangkan sekitar 800 juta dolar AS dari permintaan pasar.
Kendati demikian, Taipei tetap akan mengimpor 1,2 juta metrik ton LNG PNG setiap tahunnya hingga 2030. Volume tersebut mencakup sekitar sepertiga dari total ekspor LNG Papua Nugini dan menjadi penopang utama Proyek LNG PNG.
"Pemahaman kami adalah bahwa komitmen kontraktual jangka panjang tetap utuh sepenuhnya. Kontrak-kontrak tersebut mendukung Proyek LNG PNG dan memberikan kepastian bagi pembeli dan penjual," kata Maladina.
Kargo Spot Dialihkan ke Pembeli Asia Lain
Menteri Maladina menjelaskan pasar LNG bersifat dinamis dan sangat likuid. Kargo spot secara rutin diperdagangkan antar pembeli tergantung pada permintaan dan kondisi pasar, sehingga volume yang tidak diambil Taiwan berpotensi dialihkan ke pembeli lain di kawasan Asia.
"Oleh karena itu, kami tidak memperkirakan dampak material apa pun terhadap produksi atau volume ekspor LNG PNG," tegasnya.
Analis memperkirakan produsen akan mengalihkan kargo yang semula ditujukan untuk pembelian spot Taiwan ke pembeli Asia lainnya. Gangguan terhadap volume ekspor diprediksi terbatas, terutama karena permintaan energi di Asia terus meningkat.
Keputusan Penutupan Kantor Taiwan Jadi Pemicu
Penghentian pembelian spot ini bermula dari keputusan Port Moresby menutup kantor perwakilan Taipei pada awal Juli 2025. Langkah tersebut merupakan bentuk pengakuan Papua Nugini terhadap kebijakan Satu China dan disambut baik oleh Menteri Luar Negeri China Wang Yi.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS menyatakan keprihatinan mendalam atas keputusan tersebut. Washington menilai hubungan tidak resmi Taiwan memberikan manfaat ekonomi dan pendidikan yang substansial bagi negara-negara mitra.
Meski terjadi ketegangan diplomatik, Maladina menegaskan kebijakan luar negeri dan hubungan komersial merupakan dua hal yang terpisah. "Kewajiban komersial kami terus diatur oleh perjanjian yang mengikat secara hukum dan praktik bisnis internasional," ujarnya.
LNG Sumbang Setengah Pendapatan Ekspor PNG
LNG menyumbang sekitar setengah dari total pendapatan ekspor Papua Nugini. Taiwan sendiri hanya menyerap sekitar 8 persen dari total impor LNG-nya dari PNG, namun menjadi pembeli penting dengan nilai tagihan mencapai 346,9 juta dolar AS untuk delapan kargo pada paruh pertama 2026.
Pemerintah PNG menyatakan akan terus memantau perkembangan ini dan bekerja sama dengan para peserta proyek. Langkah ini ditempuh untuk melindungi kepentingan ekonomi jangka panjang sekaligus memastikan ekspor LNG ke pasar internasional tetap berjalan tanpa gangguan.