JAYAPURA — Di Kampung Kukup, sebuah daerah yang jauh dari pemukiman padat penduduk di pinggiran Kota Jayapura, berdiri TK ‘Aisyiyah yang menjadi satu-satunya harapan bagi anak-anak di sekitar kebun. Euis Siti Romlah adalah sosok di balik operasional sekolah kecil tersebut. Dengan bekal ilmu terbatas, ia memulai langkah mengajar menggunakan alat bantu sederhana dari lingkungan sekitar.
Dijemput Paksa dari Kebun, Dua Murid Ini Akhirnya Mau Sekolah
Maria Kaye dan Yohanis Foloktai adalah dua anak yang sehari-harinya hanya bermain di kebun. Ketika Euis mengajak mereka bersekolah, keduanya menolak dengan alasan tidak ada kendaraan yang bisa mengantar dari rumah mereka yang terpencil. Euis tidak menyerah. Ia berinisiatif menjemput keduanya setiap hari agar tetap bisa mengikuti pelajaran.
“Saya jemput mereka dari rumah di tengah perkebunan. Awalnya ragu, tapi setelah beberapa kali, mereka mulai antusias,” kata Euis dalam keterangannya, dikutip dari Suara Aisyiyah.
Stigma Agama Luntur, Orang Tua Nasrani Ikut Mengajar
Tantangan lain datang dari orang tua murid yang beragama Nasrani. Mereka awalnya ragu menyekolahkan anak di lembaga pendidikan berbasis Islam. Euis pun melakukan pendekatan hangat dan menjelaskan bahwa sekolah ini hadir untuk mendidik serta menanamkan nilai kebaikan universal tanpa memaksakan keyakinan.
Untuk pelajaran agama Nasrani, Euis justru mengajak para orang tua murid untuk turut mengajar. Ajakan itu disambut baik. Kini, orang tua bergantian memberikan materi keagamaan sesuai keyakinan anak-anak mereka.
Metode Berkebun Jadi Alat Belajar, Orang Tua Dilibatkan
Euis mengajarkan anak-anak berkebun dan memanen hasil kebun di sekitar sekolah. Metode pembelajaran kontekstual ini dipilih agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman. Ia juga melibatkan orang tua untuk membantu membimbing anak-anak selama proses belajar.
“Bagi saya, sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat anak-anak merasa diterima,” ungkap Euis.
Kerja Sama dengan Lembaga Lokal untuk Fasilitas Tambahan
Euis membangun kerja sama dengan lembaga non-pemerintah setempat untuk memperoleh sumber daya tambahan, mulai dari bantuan tenaga pengajar, fasilitas sekolah, hingga alat bantu belajar. Strategi ini perlahan membuahkan hasil. Anak-anak yang sebelumnya kesulitan belajar kini memiliki ruang untuk berkembang.
Menurut Euis, keberhasilan terbesar bukan hanya prestasi akademik, melainkan perubahan sikap dan tumbuhnya rasa percaya diri pada murid-muridnya. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik, dan perempuan adalah agen perubahan yang efektif.