JAYAPURA — Persoalan anak putus sekolah di kampung-kampung tepi Danau Sentani tidak bisa disamakan dengan wilayah daratan. Bagi sebagian pelajar, pergi ke sekolah berarti menyeberangi danau dengan perahu, menembus jarak jauh, atau mengurungkan niat lantaran orang tua tak mampu membiayai onyak transportasi harian.
Kondisi geografis inilah yang mendorong lahirnya pendekatan berbasis data untuk memilah kampung mana yang paling membutuhkan intervensi. Keterbatasan anggaran pemerintah daerah membuat penanganan tidak bisa dilakukan serentak di seluruh wilayah, sehingga diperlukan skala prioritas yang jelas dan terukur.
Empat Kampung Danau Terisolasi dari Tiga Sisi Masalah
Penelitian yang divisualisasikan melalui dashboard "Sistem Pendukung Keputusan" ini menetapkan tiga kriteria utama pemicu anak berhenti sekolah: pendapatan keluarga, jarak ke sekolah, dan akses transportasi. Ketiganya diukur di tujuh kampung, dengan empat di antaranya berlabel "(Danau)" karena berhadapan langsung dengan tantangan badan air.
Hasilnya, kampung-kampung yang terisolasi oleh danau menghadapi akumulasi masalah dari tiga sisi sekaligus. Ekonomi keluarga di wilayah itu lebih rentan, jarak tempuh ke sekolah lebih jauh, dan sarana transportasi lebih terbatas dibanding kampung di daratan utama Sentani.
Grafik Kontribusi: Yahim dan Sereh Paling Rendah, Hobong dan Yoboi Menjulang
Grafik bar vertikal yang membandingkan kontribusi ketiga kriteria menunjukkan pola konsisten: faktor ekonomi keluarga selalu menjadi penyumbang dominan di semua klaster. Namun besaran kontribusinya sangat berbeda antarkampung.
Kampung Yahim dan Kampung Sereh—dua kampung tanpa label danau—mencatat kontribusi paling rendah dengan nilai pendapatan keluarga masing-masing hanya berkisar 4-5 persen dan 2 persen. Sebaliknya, Kampung Ifale (Danau) mencatat kontribusi pendapatan keluarga tertinggi kedua di atas 11 persen, disusul Kampung Ifar Besar (Danau) di angka 7-8 persen.
Dua kampung dengan nilai gabungan tertinggi di ketiga kriteria sekaligus adalah Kampung Hobong (Danau) dan Kampung Yoboi (Danau). Keduanya menunjukkan bar biru, hijau, dan oranye yang konsisten menjulang lebih tinggi dibanding lima kampung lainnya, menegaskan kerentanan berlapis yang saling berkelindan.
Mengapa Kampung Yoboi Menjadi Prioritas Utama?
Dari keseluruhan proses perhitungan AHP yang menggabungkan bobot ketiga kriteria, sistem menetapkan Kampung Yoboi (Danau) sebagai prioritas utama mitigasi. Kampung ini memiliki nilai kontribusi tertinggi untuk kriteria pendapatan keluarga, yakni di atas 12 persen, sekaligus nilai jarak ke sekolah yang signifikan.
Penetapan ini bukan tanpa dasar. Angka tersebut mengindikasikan bahwa anak-anak di Kampung Yoboi menghadapi kombinasi tekanan ekonomi rumah tangga dan tantangan geografis yang paling berat dibandingkan enam kampung lainnya dalam kajian.
Angka Membantu Pengambilan Keputusan yang Lebih Adil
AHP adalah metode pengambilan keputusan multikriteria yang memungkinkan peneliti membandingkan dan memberi bobot pada berbagai faktor secara sistematis. Alih-alih menilai satu wilayah dari satu sudut pandang, metode ini menggabungkan seluruh kriteria menjadi satu nilai prioritas yang bisa diperbandingkan antarwilayah.
Pendekatan ini menjadi penting bagi pemerintah daerah dalam merancang intervensi yang tepat sasaran. Data yang dihasilkan dapat menjadi dasar alokasi anggaran pendidikan, penempatan bantuan transportasi pelajar, hingga perencanaan program peningkatan ekonomi keluarga di kampung-kampung tepi Danau Sentani yang selama ini kerap terlewat dari perhatian.