Pencarian

Gunung Api Bawah Laut di Utara Papua Nugini Erupsi, NASA Pantau Potensi Munculnya Pulau Baru

Senin, 13 Juli 2026 • 16:30:01 WIB
Gunung Api Bawah Laut di Utara Papua Nugini Erupsi, NASA Pantau Potensi Munculnya Pulau Baru
Citra satelit NASA menangkap kepulan uap putih dari erupsi gunung api bawah laut di utara Papua Nugini pada 10 Mei 2026.

JAYAPURA — Aktivitas vulkanik bawah laut di kawasan Laut Bismarck terpantau oleh sejumlah satelit NASA dan badan antariksa Eropa. Erupsi yang mulai terdeteksi pada 8 Mei 2026 ini terjadi di sepanjang Titan Ridge, sekitar 16 kilometer di tenggara lokasi letusan bawah laut tahun 1972.

Para peneliti masih belum bisa memastikan gunung api mana yang aktif maupun kedalaman awal kawah erupsi. Minimnya data batimetri menjadi kendala karena sebagian besar dasar laut di kawasan itu belum dipetakan secara detail.

Tanda-Tanda Erupsi Terlihat dari Antariksa

Rangkaian gempa kecil yang terekam seismometer pada 8 Mei menjadi indikasi awal. Sehari berselang, satelit Aqua dan Terra milik NASA menangkap kepulan uap putih yang membumbung ke atmosfer. Satelit PACE mendeteksi perubahan warna air laut di area luas sekitar lokasi erupsi.

Citra dari satelit Sentinel-2 milik European Space Agency (ESA) dan Landsat 9 milik NASA/USGS pada 10-11 Mei memperlihatkan aktivitas intens di permukaan laut. Instrumen VIIRS pada satelit Suomi NPP mengidentifikasi anomali panas yang mencakup area sekitar tujuh kilometer persegi.

Ahli vulkanologi Michigan Tech, Simon Carn, mengatakan banyaknya material panas di dekat permukaan menunjukkan lubang erupsi yang cukup dangkal. "Ini menunjukkan lubang erupsi yang cukup dangkal — jauh lebih dangkal daripada yang tersirat oleh batimetri yang ada, yang menunjukkan kedalaman air beberapa ratus meter atau lebih," ujarnya.

Peluang Terbentuknya Daratan Baru

Kepala Ilmuwan NASA Goddard Space Flight Center, Jim Garvin, menyebut timnya menanti dengan antusias apakah sebuah pulau baru akan terbentuk. "Sesuatu yang sangat jarang bisa kami amati secara langsung melalui satelit saat peristiwa itu terjadi," katanya seperti dikutip ScienceDaily.

Apabila material vulkanik terus menumpuk hingga muncul di atas permukaan laut, para ilmuwan akan memantau proses pembentukan daratan baru tersebut. Gunung api berpotensi membentuk kerucut tuf dengan kawah yang stabil, tetapi tidak menutup kemungkinan pulau baru itu akan cepat runtuh dan tererosi.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa erupsi dapat berubah menjadi lebih eksplosif apabila air laut mencapai kantong magma dangkal yang tengah berkembang. Namun, intensitas saat ini dinilai jauh lebih rendah dibandingkan letusan bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha'apai pada 2022 maupun Fukutoku-Okanoba pada 2021.

Laboratorium Alam untuk Misi ke Bulan

Menurut Carn, peluang peningkatan eksplosivitas secara drastis relatif kecil karena aktivitas berada di punggungan vulkanik yang berdekatan dengan sesar transform dan pusat penyebaran belakang busur. "Pusat pemekaran dikaitkan dengan aktivitas yang kurang eksplosif," jelasnya.

Durasi erupsi masih sulit diperkirakan. Sebagai perbandingan, letusan bawah laut di lokasi terdekat pada 1972 hanya berlangsung empat hari, sedangkan letusan di Selat St. Andrew pada 1957 berlangsung hampir empat tahun.

NASA bersama sejumlah lembaga penelitian internasional akan terus memanfaatkan data satelit untuk memantau perkembangan. Garvin berencana menggunakan data radar dari satelit NASA-ISRO NISAR serta RADARSAT Constellation Mission milik Canadian Space Agency untuk memetakan perubahan bentuk daratan apabila pulau baru benar-benar muncul.

"Letusan baru ini dapat menghadirkan peluang yang bahkan lebih baik bagi eksplorasi 'island-naut' saat kita bersiap untuk kembali ke Bulan melibatkan astronaut perempuan dan laki-laki melalui misi Artemis IV," kata Garvin.

Bagikan
Sumber: idnfinancials.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks