PAPUA — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 6.068,03 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.074,08 sebelum terkoreksi ke level terendah harian 6.039,82. Indeks kemudian berhasil bangkit dan bertahan di atas level 6.050 hingga sesi pagi berlangsung.
Pendorong Kenaikan: Sektor Energi Masih Jadi Andalan
Indeks sektor energi (IDX Energy) tercatat menguat tipis 0,08% ke level 2.847,97. Kenaikan ini menjadi salah satu faktor utama yang menjaga IHSG tetap di zona hijau di tengah fluktuasi awal perdagangan.
Sejumlah emiten energi mencatatkan penguatan signifikan pada pagi ini:
- Rukun Raharja (RAJA) naik 1,96% ke Rp 4.680
- ABM Investama (ABMM) menguat 1,67% ke Rp 2.430
- Bayan Resources (BYAN) naik 1,31% ke Rp 11.575
- Petrosea (PTRO) menguat 0,76% ke Rp 3.980
- Super Energy (SURE) naik 0,72% ke Rp 2.780
- Golden Energy Mines (GEMS) menguat 0,39% ke Rp 6.475
- Baramulti Suksessarana (BSSR) naik 0,23% ke Rp 4.270
- Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik tipis 0,10% ke Rp 24.025
Tekanan di Sebagian Saham, Tapi Tak Mengubah Arah IHSG
Di sisi lain, beberapa saham energi justru bergerak melemah. Transcoal Pacific (TCPI) turun 2,08% ke Rp 5.875, Paragon Karya Perkasa (PKPK) terkoreksi 0,63% ke Rp 3.130, dan Adaro Andalan Indonesia (AADI) melemah 0,30% ke Rp 8.400.
Namun, pelemahan ini bersifat terbatas dan tidak cukup kuat untuk mengubah momentum positif IHSG. Mayoritas emiten energi masih bertengger di zona hijau, menunjukkan sektor ini masih menjadi primadona di awal perdagangan.
Saham yang Stagnan: ADRO hingga PTBA Tak Bergerak
Beberapa saham energi besar justru bergerak datar tanpa perubahan harga. Raharja Energi Cepu (RATU) bertahan di Rp 5.325, Prima Andalan Mandiri (MCOL) stagnan di Rp 3.800, dan Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) tak berubah di Rp 2.530. Alamtri Resources Indonesia (ADRO) dan Bukit Asam (PTBA) juga masih betah di level Rp 2.480 dan Rp 2.420.
Konsolidasi harga pada saham-saham berkapitalisasi besar ini mengindikasikan investor masih wait and see, menunggu katalis lebih lanjut baik dari harga komoditas maupun kebijakan domestik.