JAYAPURA — Angka partisipasi yang rendah ini menjadi perhatian serius Dinkes Papua. Pelaksana Tugas Kepala Dinkes Papua, dr Beeri Wopari, mengakui capaian tersebut masih jauh dari harapan dan masuk dalam indikator merah pelaksanaan program kesehatan nasional.
Data hingga Juni mencatat realisasi peserta CKG hanya 106 orang. Jumlah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kesiapan operasional 123 puskesmas yang telah dinyatakan siap melayani pemeriksaan kesehatan gratis.
Kendala Utama: Warga Lebih Pilih Periksa Saat Sakit
Beeri menduga minimnya peminat CKG disebabkan kewajiban pendaftaran melalui aplikasi sebelum pemeriksaan. Proses ini dinilai menjadi penghalang bagi masyarakat yang tidak terbiasa dengan layanan digital.
"Masih sedikitnya warga yang mengikuti program CKG diduga karena peserta terlebih dahulu harus mendaftar melalui aplikasi sehingga banyak yang memilih untuk memeriksa kesehatannya saat sakit," kata Beeri di Jayapura, Kamis.
Mendorong Deteksi Dini Penyakit di Papua
Padahal, tujuan utama program CKG adalah mengubah kebiasaan warga untuk memeriksakan kesehatan dalam kondisi prima, bukan hanya saat jatuh sakit. Dengan begitu, gangguan kesehatan bisa terdeteksi sejak dini sebelum berkembang menjadi penyakit kronis.
"Program CKG bermanfaat karena masyarakat dapat melakukan pemeriksaan kesehatan walaupun saat itu dalam kondisi sehat," jelasnya.
Dinkes Papua kini mendorong jajaran Dinas Kesehatan di kabupaten dan kota untuk lebih aktif melakukan sosialisasi dan jemput bola ke masyarakat. Tenaga kesehatan di puskesmas diminta gencar mengedukasi warga tentang pentingnya pemeriksaan rutin.
"Mudah-mudahan dengan gencarnya para tenaga kesehatan di puskesmas diharapkan makin banyak warga yang mengikuti CKG," demikian Beeri Wopari.