PAPUA — Berdasarkan data RTI, IHSG dibuka di level 6.408 dan langsung tertekan hingga menyentuh level terendah 6.376 pada pukul 09.04 WIB. Level tertingginya pagi ini hanya mencapai 6.414. Sebanyak 302 saham tercatat melemah, 151 saham menguat, dan 201 saham stagnan.
Volume perdagangan sudah mencapai 2,39 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 836,19 miliar dari 155.070 frekuensi. Tekanan jual tampak dominan di seluruh sektor, seiring investor merespons ketidakpastian arus dana asing ke pasar modal domestik.
Kinerja IHSG Masih Positif dalam Sepekan
Meski terkoreksi pagi ini, secara mingguan IHSG masih mencatat kenaikan 1,75%. Dalam sebulan terakhir, indeks naik tipis 0,6%. Namun, tren jangka menengah dan panjang masih suram—IHSG melemah 7,64% dalam tiga bulan, ambles 28,96% dalam enam bulan, dan turun 12,77% selama setahun terakhir.
Angka-angka itu menunjukkan investor masih enggan masuk dalam jangka panjang. Koreksi pagi ini mempertegas sentimen negatif yang sudah mengakar sejak awal tahun.
Keputusan FTSE Russell dan Dampaknya bagi Emiten Baru
FTSE Russell, penyedia indeks saham global asal Inggris, memutuskan menunda penambahan konstituen baru dari bursa Indonesia setidaknya hingga peninjauan indeks berikutnya pada Desember 2026. Penundaan ini mencakup emiten yang baru melantai lewat IPO, perubahan segmen ukuran antartingkatan large, mid, small, hingga micro-cap, serta penyesuaian free float dan weight adjustment factor (WAF).
Keputusan ini langsung memukul likuiditas saham-saham yang berpotensi masuk indeks FTSE. Padahal, masuknya sebuah saham ke indeks global biasanya memicu aliran dana pasif dari investor asing yang meniru komposisi indeks tersebut.
"Langkah ini memberikan waktu tambahan untuk mengamati dan memantau reformasi pasar serta efektivitasnya," demikian bunyi pengumuman resmi FTSE Russell, Rabu (19/8/2026).
Reformasi Pasar Modal Indonesia Masih Dievaluasi
Penundaan yang dilakukan FTSE Russell ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, lembaga tersebut juga menahan langkah serupa pada periode peninjauan sebelumnya. Artinya, upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam mereformasi pasar modal—termasuk kebijakan perdagangan dan tata kelola—belum sepenuhnya meyakinkan penyedia indeks global.
Bagi pelaku pasar, keputusan ini berarti aliran dana asing ke saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil yang baru IPO akan lebih lambat. Investor domestik pun cenderung wait and see menunggu kejelasan arah kebijakan lanjutan dari regulator.
Investasi mengandung risiko. Koreksi IHSG pagi ini bisa berlanjut jika tekanan jual asing masih mendominasi hingga penutupan perdagangan nanti.