Pencarian

Ada yang Lebih Penting dari Nominal Insentif Motor Listrik, Ini Kata Kemenperin

Senin, 31 Agustus 2026 • 14:55:01 WIB
Ada yang Lebih Penting dari Nominal Insentif Motor Listrik, Ini Kata Kemenperin
Warga mengamati motor listrik yang dipamerkan dalam sebuah pameran kendaraan bermotor di Jakarta.

PAPUAKementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut kemudahan akses terhadap program insentif motor listrik punya peran lebih besar dibanding angka subsidi yang ditawarkan. Pengalaman dari program sebelumnya menjadi dasarnya: saat persyaratan dipersempit, serapan rendah; begitu syarat dilonggarkan, peminat langsung meningkat.

Bukti dari Program Sebelumnya: Syarat Dipersempit, Serapan Naik

Pada tahap awal, penerima insentif kendaraan listrik roda dua dibatasi untuk keluarga sejahtera dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kuota pun sulit terpenuhi.

Pemerintah kemudian mengubah aturan. Warga negara Indonesia yang memegang Kartu Tanda Penduduk (KTP) langsung berhak mendapatkan insentif tanpa syarat tambahan. Hasilnya, angka pemanfaatan program meningkat.

"Kalau dari pengalaman dulu kan tingkat pemanfaatan insentif motor listrik itu meningkat ketika persyaratannya dilonggarkan," kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, di Jakarta Selatan, Senin (31/8/2026).

Febri menegaskan, skema yang rumit justru menjadi penghambat utama. Semakin sederhana persyaratannya, semakin besar minat masyarakat untuk memanfaatkan program.

"Saya yakin juga sekarang ketika ada insentif itu pasti akan banyak pembelinya," ujarnya.

Harga BBM Naik Bisa Jadi Pemicu Peralihan

Selain soal syarat administrasi, Kemenperin melihat faktor biaya operasional harian turut menentukan keputusan konsumen. Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) disebut bakal membuat motor listrik semakin menarik.

Perhitungannya sederhana: biaya pengisian daya listrik yang relatif stabil akan jauh lebih murah dibanding pengeluaran untuk bensin apabila harga BBM terus merangkak naik. Kondisi ini menurut Febri bisa mempercepat perpindahan pemilik motor konvensional ke kendaraan listrik.

"Sekarang kan pasar lihat ada kenaikan BBM, potensi kenaikan BBM tinggi. Maka akan ada peralihan dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik itu, ketika tarif listrik yang masih seperti saat ini itu tentu akan banyak," jelasnya.

Kabar Baik untuk Pemilik Motor Konvensional

Meski peluang pasar terbuka lebar, Kemenperin belum bisa memastikan besaran insentif yang akan diterapkan. Keputusan final soal nominal subsidi berada di tangan Kementerian Keuangan, dan Kemenperin akan mengikuti kebijakan tersebut.

Yang jelas, pengembangan kendaraan listrik tidak akan mengganggu ekosistem industri sepeda motor yang sudah ada. Kemenperin berkomitmen menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar, termasuk melindungi investasi yang telah masuk ke subsektor industri motor konvensional.

"Tetapi tetap kalau Kementerian Perindustrian akan mengikuti itu dan akan menjaga keseimbangan supply demand di industri motor, tidak hanya motor listrik semuanya dan tetap akan menjaga keseimbangan. Dan terutama pada investasi yang ada selama ini pada subsektor industri sepeda motor," tutur Febri.

Soal persaingan, kehadiran banyak merek motor listrik baru di pasar lokal dinilai bukan masalah. Ruang tumbuhnya masih besar, dan kapasitas produksi nasional disebut belum berlebih.

"Motor listrik kan masih cukup ini lah, pasarnya masih cukup besar. Walaupun banyak mereknya. Pasar kita masih cukup besar," pungkasnya.

Follow jayapuraonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: transportasimedia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks