JAYAPURA — Dinas Pertanian, Pangan dan Kelautan, Perikanan (DP2KP) Papua Selatan mencatat sekitar 500 hektare lahan persawahan di Kabupaten Merauke terdampak gagal panen. Kekeringan yang dipicu kemarau berkepanjangan membuat tanaman padi tidak dapat berproduksi maksimal.
Paino menjelaskan, musibah ini berawal dari kesalahan petani dalam memprediksi cuaca. Saat masa tanam, saluran irigasi masih dialiri air, namun hujan tak kunjung turun hingga menyebabkan kekeringan di sejumlah embung.
Embung dan Irigasi Mulai Mengering
"Memang benar dampak kemarau mulai dirasakan hingga menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah di Kabupaten Merauke," kata Paino, Minggu.
Akibat tidak adanya pasokan air, bulir padi tidak terisi sempurna. Paino menambahkan, di beberapa titik yang masih memiliki cadangan air, tanaman padi tetap tumbuh, tetapi hasilnya jauh dari maksimal.
Merauke Andalan Produksi Beras Papua Selatan
Kabupaten Merauke selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan penghasil beras utama di wilayah Papua Selatan. Ribuan petani menggantungkan hidupnya pada sektor persawahan di daerah tersebut.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi ketahanan pangan lokal. Pasokan beras dari Merauke biasanya memenuhi kebutuhan beberapa kabupaten tetangga di wilayah selatan Papua.
Harapan Petani Menanti Hujan Turun
Paino berharap curah hujan segera turun dalam waktu dekat. "Mudah-mudahan hujan segera turun agar air di irigasi maupun embung kembali terisi sehingga dapat dipompa untuk mengairi sawah," ujarnya.
Para petani di sejumlah distrik kini hanya bisa menunggu dan berharap musim hujan segera tiba. Jika kemarau masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, luas lahan gagal panen dikhawatirkan akan terus bertambah.
Pemerintah daerah melalui DP2KP Papua Selatan masih melakukan pendataan menyeluruh terhadap luas lahan terdampak dan jumlah petani yang mengalami kerugian akibat bencana kekeringan tahun ini.