DOGIYAI — Ketua KADIN Kabupaten Dogiyai Amatus Anouw, S.Sos., menyebut pengembangan kopi perlu menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi lahan yang tersedia. Warga diharapkan tidak berhenti mengenal kopi sebagai komoditas perkebunan, tetapi mampu mengelolanya menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
Sosialisasi menyasar sembilan kampung, yakni Kigamani, Idadagi, Dogimani, Denemani, Makidimi, Egebutu, Pona, Motito, dan Bogobutu. Lewat kegiatan itu, warga memperoleh pemahaman soal peluang pengembangan perkebunan kopi serta pentingnya keterlibatan mereka mengelola potensi ekonomi di wilayah masing-masing.
Amatus: Warga Dogiyai Harus Jadi Pelaku Utama
Amatus menegaskan posisi warga sebagai penentu dalam pengembangan ekonomi daerah, bukan sekadar penonton. Ia menyinggung potensi tanah Dogiyai yang dinilai cocok untuk tanaman kopi.
"Kita ingin masyarakat Dogiyai tidak hanya menjadi penonton dalam pengembangan ekonomi daerah, tetapi menjadi pelaku utama. Tanah Dogiyai memiliki potensi untuk pengembangan kopi. Karena itu, mari kita manfaatkan lahan yang tersedia untuk menanam kopi demi masa depan keluarga dan generasi mendatang," ungkap Amatus.
KADIN Dogiyai menilai pengembangan kopi menuntut langkah berkelanjutan, bukan berhenti pada sosialisasi atau festival. Rangkaiannya perlu dilanjutkan lewat penyediaan bibit, penanaman, pemeliharaan tanaman, pendampingan petani, hingga pengolahan dan pemasaran hasil panen.
Ekosistem Kopi Butuh Kolaborasi Lintas Tingkat
Amatus menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak membangun ekosistem usaha kopi yang berkembang dari tingkat kampung hingga menjangkau pasar lebih luas. Kolaborasi itu melibatkan pemerintah daerah, pemerintah distrik, pemerintah kampung, kelompok tani, pelaku usaha, dan unsur masyarakat lainnya.
Sinergi antarpihak dinilai menentukan agar pengembangan perkebunan tidak berhenti di tahap penanaman. Hasilnya diharapkan berlanjut menjadi produk bernilai jual dan mampu bersaing di pasar.
Selain mendukung peningkatan pendapatan keluarga, pengembangan komoditas ini berpotensi membuka peluang usaha baru dan menciptakan lapangan kerja. Peluang itu terutama terbuka bagi warga yang terlibat dalam perkebunan, pengolahan, dan distribusi hasil produksi.
Kendala yang Harus Dijawab agar Kopi Tak Berhenti di Bibit
Keberhasilan pengembangan kopi di Dogiyai bergantung pada kesinambungan program, pendampingan petani, ketersediaan sarana produksi, serta akses pemasaran yang memadai. KADIN Kabupaten Dogiyai berharap sembilan kampung sasaran mengambil bagian secara terencana dan berkelanjutan.
Pemanfaatan lahan secara produktif diharapkan mendorong keterlibatan warga dalam kegiatan ekonomi sekaligus memperluas kesempatan usaha di tingkat kampung. Dengan dukungan pemangku kepentingan, kopi Dogiyai diharapkan memperkuat ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua Tengah.