SENTANI — Puluhan perwakilan komunitas dan pegiat lingkungan berkumpul di Holey Narey Learning Centre WWF Indonesia Program Papua, Sentani, mengikuti workshop pengolahan sampah organik. Kegiatan ini merupakan seri lanjutan dari pelatihan yang digelar pada momentum Hari Bumi, 24 April lalu.
Mengolah Sampah Dapur, Menekan Ancaman Tiga Krisis Planet
Peserta tidak hanya diajarkan teknik membuat kompos dari sisa makanan. Mereka juga mendapat materi tentang korelasi antara sampah rumah tangga dengan triple planetary crisis—istilah resmi dari United Nations Environment Programme (UNEP) yang mencakup perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi udara dan limbah.
Adelia Tania, Staf Kampanye WWF Indonesia Program Papua, menekankan bahwa solusi lingkungan harus dimulai dari kebiasaan kecil di tingkat komunitas. “Bila sebuah komunitas membagikan kisah sukses dan praktik baik dari pengalaman lokal mereka, pesannya pasti lebih relate dan mudah diterima masyarakat,” ujarnya.
Gereja Hidupkan Kembali Komposter yang Lama Mati
Salah satu peserta, Yulius Hindom dari PAM GKI Onomi Felavauw, mengakui bahwa gerejanya sebenarnya memiliki fasilitas komposter yang sudah lama tidak aktif. “Pelatihan ini sangat membantu untuk menghidupkan kembali semangat kolaborasi mengolah sampah di lingkungan gereja,” kata Yulius.
Menurutnya, ajaran agama mengamanatkan harmoni dengan alam. Edukasi soal kebiasaan sederhana seperti mengolah sampah makanan, lanjut dia, harus dipahami dan disebarluaskan ke jemaat.
Dari Komunitas ke Media Sosial: Strategi Gaungkan Aksi Lokal
Bagian kedua pelatihan berfokus pada penyusunan konten kampanye digital. WWF mendorong peserta untuk memanfaatkan media sosial sebagai corong praktik baik yang mereka lakukan di lapangan.
“Menggemakan pesan-pesan positif ini melalui media sosial adalah salah satu wujud nyata kepedulian kita pada bumi,” tambah Tania. Ia berharap peserta tidak hanya sadar akan keterkaitan sampah makanan dengan krisis iklim, tetapi juga menjadi penggerak digital di lingkungan masing-masing.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan dari komunitas lintas agama, masyarakat adat, mahasiswa, serta sekolah Adiwiyata. Diskusi berlangsung dinamis karena setiap peserta membawa perspektif lokal yang berbeda dalam mengelola limbah rumah tangga.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kemandirian Pengelolaan Sampah
DLH Kabupaten Jayapura dan WWF menilai pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci dalam menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pengomposan mandiri dinilai sebagai jalan keluar agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada pemerintah dalam menuntaskan persoalan sampah, khususnya sisa makanan.
Para peserta diharapkan mampu mereplikasi pelatihan ini di kelompoknya masing-masing dan terus mengampanyekan gaya hidup minim sampah lewat kanal digital yang mereka miliki.